Suasana di Desa Bulan, Manggarai, sempat tegang bukan main Senin lalu. Dua kelompok masyarakat adat, Gendang Bung Leko dan Gendang Bung Kaca, nyaris bentrok. Mereka saling berhadapan, hanya terpisah dua tiga meter, dengan parang di tangan. Penyebabnya klasik tapi selalu berpotensi meledak: sengketa tanah ulayat.
Menurut sejumlah saksi, semuanya berawal dari aktivitas warga di lahan yang jadi rebutan itu. Usai warga Gendang Bung Kaca pulang dari lokasi, kabar itu langsung memicu reaksi dari kubu Gendang Bung Leko. Mereka pun bergerak. Pertemuan di jalur utama desa itu yang kemudian memanas dengan cepat. Kedua kubu saling mengadang, bersiap untuk perang tanding.
Untungnya, aparat kepolisian bersama perangkat desa bergerak cepat. Mereka langsung turun ke lokasi untuk melerai.
“Kami meminta kedua kelompok untuk menahan diri dan kembali ke gendang masing-masing demi menjaga situasi tetap kondusif,” jelas Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah.
Upaya meredakan situasi ternyata melibatkan sebuah aksi yang cukup dramatis. Seorang anggota polisi bahkan dilaporkan berlutut di tengah jalan, memohon dengan sungguh-sungguh agar warga mengurungkan niat untuk bertindak kekerasan. Aksi itu rupanya cukup efektif meredam emosi massa yang sudah memuncak.
Kepala Desa Bulan, Yuvensianus Hamat, menegaskan akar masalahnya. “Pemicunya karena masing-masing pihak merasa memiliki hak atas tanah itu,” ujarnya. Konflik ini memang berakar dari klaim kepemilikan yang sama-sama dikukuhkan oleh kedua kelompok adat tersebut.
Untuk sementara, aparat gabungan telah mendatangi rumah adat atau gendang masing-masing. Mereka juga meminta agar tidak ada aktivitas apa pun di lokas sengketa sampai persoalan diselesaikan. Rencananya, konflik agraria yang pelik ini akan dibawa ke tingkat Pemkab Manggarai. Tujuannya mencari solusi permanen, entah lewat musyawarah adat atau jalur hukum.
Di sisi lain, polisi mengaku lebih mengedepankan pendekatan dialog. Kabid Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra, menekankan soal pendekatan kemanusiaan dalam menangani konflik semacam ini.
Kini, situasi di Desa Bulan dilaporkan sudah kondusif. Meski begitu, pengawasan ketat masih terus dilakukan. Aparat tak ingin ada kejadian yang memicu kembali ketegangan yang nyaris meledak itu. Semua pihak kini menunggu proses mediasi yang diharapkan bisa membawa jalan keluar.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi