AI di Ruang Redaksi: Alat Bantu, Bukan Pengganti
Di tengah maraknya penggunaan teknologi kecerdasan buatan, suara hati dari dunia jurnalistik kembali ditegaskan. Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR RI, dengan lantang menyatakan bahwa AI harusnya cuma jadi alat bantu. Bukan pengganti peran sentral manusia dalam kerja-kerja jurnalistik.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah diskusi bertajuk "Smart Journalism" di Jakarta, Minggu lalu. Acara yang digelar bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu mengangkat soal integrasi data, riset, dan AI untuk memberitakan berita berkualitas.
Memang, fakta di lapangan menunjukkan hampir 95% jurnalis di Asia Tenggara sudah akrab dengan AI. Tapi Hetifah bersikukuh. Kendali utama mulai dari keputusan editorial, verifikasi fakta, sampai pertimbangan etika harus tetap di tangan manusia. Titik.
“Perubahan ekosistem ini membawa peluang besar bagi efisiensi ruang redaksi, di mana AI mampu melakukan tugas berat seperti analisis ribuan dokumen, transkripsi, hingga pengolahan data publik secara instan,” ujarnya.
Perkembangannya memang pesat, bahkan fundamental. AI telah mengubah lanskap jurnalisme dari hulu ke hilir. Cara produksi berita berubah, cara publik mengonsumsi informasi pun tak lagi sama. Lihat saja data: lebih dari 70% Generasi Z sekarang pakai AI untuk cari informasi. Ini jelas bukan eksperimen teknologi lagi. AI sudah mendarah daging di ekosistem media modern.
Artikel Terkait
IHSG Terkikis 1,61%, Analis Proyeksikan Koreksi Bisa Lanjut ke Level 6.745
DJP Catat Lebih dari 8 Juta Laporan SPT Tahunan 2025 Hingga Tenggat
Timnas Futsal Indonesia Umumkan 19 Pemain untuk Persiapan ASEAN Championship 2026
Pemerintah Gandeng Ansor Jateng Garap Program Brigade Pangan