Seafood, Telur, dan Kacang Picu Bau Badan Akibat Gangguan Metabolisme Langka

- Selasa, 16 Juni 2026 | 02:40 WIB
Seafood, Telur, dan Kacang Picu Bau Badan Akibat Gangguan Metabolisme Langka

Seafood, telur, hingga kacang-kacangan yang kerap dianggap sebagai sumber nutrisi ternyata dapat menjadi pemicu utama memburuknya bau badan pada sebagian individu. Fenomena ini tidak semata-mata disebabkan oleh pola hidup atau kebersihan tubuh yang kurang terjaga, melainkan dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme langka yang dikenal sebagai Trimethylaminuria.

Penyakit ini membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk mengolah senyawa Trimethylamine (TMA), zat yang memiliki aroma amis khas seperti ikan busuk. Akibatnya, TMA menumpuk di dalam tubuh dan dikeluarkan melalui keringat, napas, urin, hingga cairan reproduksi, sehingga menimbulkan bau yang sulit dihilangkan.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Aditya Surya Pratama, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, tubuh memiliki enzim FMO3 di hati yang bertugas mengubah TMA menjadi Trimethylamine N-Oxide yang tidak berbau. Namun, pada penderita Trimethylaminuria, enzim tersebut rusak atau tidak aktif.

“Normalnya enzim FMO3 di hati itu mengubah TMA menjadi Trimethylamine N-Oxide di mana bentuk yang tidak berbau. Tapi pada penderita ini si enzim FMO3 ini dia rusak atau tidak aktif sehingga TMA menumpuk di dalam tubuh dan keluar lewat keringat, nafas, urin atau cairan reproduksi,” kata dr Aditya.

Makanan seperti seafood, telur, hati, dan kacang-kacangan mengandung kolin serta senyawa nitrogen yang dapat meningkatkan produksi TMA di dalam tubuh. Pada orang dengan Trimethylaminuria, senyawa tersebut tidak dapat diproses secara optimal sehingga memicu bau amis yang lebih kuat. Akibatnya, setelah mengonsumsi makanan tertentu, penderita dapat mengalami peningkatan aroma tidak sedap yang sulit dihilangkan meski sudah mandi atau menggunakan deodoran dan parfum.

Menurut dr Aditya, penyebab utama Trimethylaminuria adalah mutasi pada gen FMO3. Sejumlah penelitian menunjukkan gangguan pada gen tersebut dapat membuat kadar TMA meningkat hingga 10 sampai 50 kali lipat dibandingkan orang normal. “Sehingga bau yang keluar sangat kuat dan khas seperti ikan busuk,” ucapnya.

Sementara itu, kondisi psikologis juga berperan dalam memperburuk gejala. Stres dan kecemasan berlebihan diketahui dapat meningkatkan produksi keringat yang membuat aroma amis semakin terasa. Oleh karena itu, penderita Trimethylaminuria biasanya dianjurkan untuk memperhatikan pola makan sehari-hari. Pembatasan konsumsi makanan tinggi kolin menjadi salah satu cara utama untuk mengurangi produksi TMA dan menekan munculnya bau badan.

Meski belum dapat disembuhkan secara genetik, penyakit ini masih bisa dikendalikan melalui berbagai langkah medis. Dokter dapat memberikan antibiotik dosis rendah seperti metronidazol atau neomycin guna mengurangi jumlah bakteri usus yang menghasilkan TMA. Selain itu, penggunaan activated charcoal juga dapat membantu mengikat TMA di saluran pencernaan sehingga jumlah zat yang diserap tubuh menjadi lebih sedikit.

“Yang ketiga, activated charcoal di mana yang membantu mengikat TMA di usus. Dan yang keempat, gunakan sabun mandi yang punya pH seimbang. Di mana ini untuk mengurangi pelepasan TMA via kulit,” ujar dr Aditya.

Tak hanya berdampak pada kondisi fisik, Trimethylaminuria juga dapat memengaruhi kesehatan mental penderitanya. Bau amis yang terus muncul sering menimbulkan stigma sosial dan membuat pasien kehilangan rasa percaya diri. “Jadi ada studi yang menemukan bahwa lebih dari 70 persen pasien ini mengalami penurunan kualitas hidup, mengalami kecemasan sosial bahkan sampai depresi. Karena apa? Karena sering dianggap jorok atau tidak menjaga kebersihan,” kata dr Aditya.

Karena itu, selain menjalani pengobatan dan mengatur pola makan, dukungan keluarga serta lingkungan sekitar menjadi hal penting agar penderita dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih nyaman. Pemahaman masyarakat juga diperlukan agar kondisi langka ini tidak lagi disalahartikan sebagai masalah kebersihan semata.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar