49.000 Imigran Afrika Menyeberang ke Ceuta, Bentrokan Pecah di Perbatasan

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 03:30 WIB
49.000 Imigran Afrika Menyeberang ke Ceuta, Bentrokan Pecah di Perbatasan

Sebanyak 49.000 imigran asal Afrika telah menyeberang ke Ceuta, kantong Spanyol di Afrika Utara, dalam dua hari terakhir. Mereka nekat menempuh jalur laut, sebagian bahkan berenang, untuk memasuki Eropa. Gelombang kedatangan ini memicu bentrokan antara pasukan keamanan Maroko dan para imigran yang berusaha menembus perbatasan.

Bentrokan terjadi pada Jumat (31/7/2026) ketika pasukan keamanan Maroko berupaya mencegah para imigran mendekati pagar perbatasan. Tindakan represif itu dibalas dengan pembakaran mobil dan bus di dekat perbatasan. Pasukan keamanan kemudian menahan sejumlah imigran dan memindahkan mereka ke luar Kota Fnideq, sementara terus mengejar lainnya yang masih berusaha mencapai Ceuta.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol melaporkan bahwa sekitar 49.000 imigran telah menyeberang ke wilayah tersebut dalam 24 jam terakhir. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, didampingi Menteri Dalam Negeri Fernando Grande Marlaska, mengunjungi perbatasan Ceuta pada Jumat untuk memantau situasi.

Sebelumnya, pada Kamis (30/7/2026), Spanyol dan Maroko sepakat memperkuat koordinasi dan mempercepat pemulangan imigran yang masuk melalui jalur tidak resmi. Namun, Mahkamah Agung Spanyol telah memutuskan bahwa imigran yang dicegat di laut saat mencoba mencapai Ceuta atau Melilla berhak menjalani sidang pemrosesan formal dan tidak boleh langsung dipulangkan.

Ceuta, yang merupakan kota otonom Spanyol di pantai Afrika Utara, dikelilingi pagar perbatasan, sehingga banyak imigran memilih berenang untuk mencapainya. Jarak antara pantai Fnideq dan beberapa titik pantai di dekat Ceuta hanya sekitar 2 hingga 3 kilometer.

Para imigran dari berbagai negara Afrika, termasuk Maroko, terus berusaha masuk secara ilegal demi mencari kehidupan yang lebih baik. Pada Mei 2024, Dewan Ekonomi Sosial dan Lingkungan Maroko mencatat bahwa sekitar 1,5 juta anak muda berusia 15-24 tahun di negara itu tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak mengikuti pelatihan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags