Jababeka Catat Rugi Bersih Rp6,4 Miliar pada Semester I-2026, Manajemen Beberkan Penyebabnya

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 07:40 WIB
Jababeka Catat Rugi Bersih Rp6,4 Miliar pada Semester I-2026, Manajemen Beberkan Penyebabnya

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar pada semester I-2026. Angka ini berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat laba bersih Rp627,6 miliar.

Kendati demikian, pendapatan konsolidasian perseroan mencapai Rp2.436,5 miliar pada semester I-2026, turun 11 persen dibandingkan Rp2.726,4 miliar pada semester I-2025.

Wakil Direktur Utama KIJA Budianto Liman menjelaskan, rugi bersih tersebut terutama dipicu oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes perseroan menjadi pinjaman bank. Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs sebesar Rp280,7 miliar, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging) Rp154,6 miliar, serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027 senilai Rp24,9 miliar.

"Biaya-biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis perseroan dalam melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang rupiah, yang diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan perseroan periode berjalan," ujarnya dalam keterbukaan informasi, Minggu (2/8/2026).

Budianto menerangkan, refinancing dan pelunasan Senior Notes yang jatuh tempo pada 2027 merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan dan profil keuangan. Transaksi ini memperpanjang jatuh tempo utang melalui fasilitas pinjaman baru bertenor 15 tahun, menyelesaikan refinancing secara proaktif lebih dari 18 bulan sebelum jatuh tempo, memperkuat likuiditas dan fleksibilitas keuangan, mengurangi risiko nilai tukar melalui penyelarasan mata uang pembiayaan dengan mata uang pelaporan, serta menurunkan risiko refinancing di tengah volatilitas pasar.

Di luar pos-pos non-berulang tersebut, perseroan tetap membukukan laba operasional sebesar Rp524,0 miliar pada semester I-2026, dibandingkan Rp822,8 miliar pada semester I-2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.

Budianto mengungkapkan, penurunan tersebut mencerminkan lebih rendahnya pendapatan lahan industri. Meskipun demikian, perseroan tetap membukukan laba operasional yang didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan bisnis Infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang.

"Manajemen tetap optimistis bahwa portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta meningkatnya pendapatan berulang akan terus menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan," katanya.

Lebih lanjut, pilar infrastruktur terus menunjukkan pertumbuhan dengan kenaikan pendapatan sebesar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga meningkatkan kontribusi pendapatan berulang menjadi 57 persen dari total pendapatan konsolidasian, dibandingkan 45 persen pada semester I-2025.

"Hal ini mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur dan sumber pendapatan berulang perseroan terhadap struktur pendapatan yang lebih seimbang dan tangguh," ujar dia.

Dengan demikian, KIJA mencatatkan adjusted EBITDA Rp747,7 miliar pada semester I-2026, turun 25 persen dibandingkan Rp995,3 miliar pada semester I-2025.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags