DPRD Banten Panggil Dinkes, Waspadai Lonjakan 2.000 Suspek Campak

- Senin, 16 Maret 2026 | 20:45 WIB
DPRD Banten Panggil Dinkes, Waspadai Lonjakan 2.000 Suspek Campak

Angka kasus campak di Banten terus merangkak naik. Hanya dalam tiga bulan pertama 2026, sudah ada lebih dari dua ribu orang yang diduga terjangkit. Situasi ini pun membuat DPRD setempat angkat bicara.

Sekretaris Komisi V DPRD Banten, Rifky Hermiansyah, menyatakan pihaknya akan segera memanggil Dinas Kesehatan. Tujuannya jelas: mengecek kesiapan mereka di lapangan, terutama soal ketersediaan obat dan vaksin.

"Kami di DPRD sangat memperhatikan lonjakan angka suspek ini," tegas Rifky, Senin (16/3/2026).

"Kami ingin memastikan ketersediaan obat-obatan campak dan vaksin MR mencukupi untuk seluruh wilayah Banten, terutama di daerah zona merah seperti Pandeglang dan Tangerang. Jangan sampai ada kendala stok di tengah ancaman KLB ini."

Politisi Gerindra itu menekankan, stok di puskesmas dan posko kesehatan sama sekali tak boleh kosong. Menurutnya, penanganan yang cepat sangat bergantung pada hal itu. "Kami tidak ingin Banten kecolongan hanya karena masalah distribusi obat yang terhambat atau koordinasi yang lemah," tambahnya.

Di sisi lain, langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Provinsi Banten sendiri sudah lebih dulu menyoroti tren peningkatan ini. Mereka bahkan sudah menganggapnya mengarah pada status Kejadian Luar Biasa atau KLB.

Kepala Dinas Kesehatan Banten, Ati Pramudji Astuti, mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan. Tahun lalu, 2025, ada sekitar 6.000 suspek dengan 510 kasus positif.

"Berbekal dari situ, otomatis kita menganggap ini mengarah ke KLB," ujar Ati di Cilegon, Jumat (13/3).

"Sejak Januari kemarin kita sudah mempersiapkan. Dari data yang masuk sampai Maret, dengan surveilans aktif yang terus kita lakukan, diperkirakan sudah ada 2.000 lebih yang suspek."

Dua ribu kasus suspek itu tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Namun begitu, baru satu orang di Kota Tangerang yang dikonfirmasi positif berdasarkan pemeriksaan. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus maksimal.

"Kenapa kita galakkan? Maret dapat 2.000, kita tak boleh kecolongan," pungkas Ati. Memang, campak tanpa komplikasi punya potensi kesembuhan besar. Tapi, begitu gejala muncul, penanganan harus segera diarahkan dengan tepat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar