"Siapapun yang merasa nyaman mengambil hak orang lain, merusak hutan, atau menguasai yang bukan miliknya, berarti ia sedang meniru watak iblis," kata Gus Kautsar.
Ironisnya, ketidakadilan itu terasa begitu nyata. Para pelaku yang terbukti zalim mungkin sedang asyik duduk ngopi dengan tenang, sementara masyarakat kecil yang tak bersalah justru menjadi korban, kehilangan harta benda bahkan nyawa.
Lalu, apa solusinya? Gus Kautsar mengajak seluruh elemen bangsa untuk melakukan apa yang ia sebut 'taubat ekologis'. Ini adalah sikap moral kolektif untuk menghentikan kerusakan dan memperbaiki hubungan kita dengan alam.
Pemerintah, dalam hal ini, harus mengambil langkah tegas. Salah satu wujud nyatanya adalah reboisasi besar-besaran. Penghijauan harus jadi prioritas utama setelah kerusakan masif yang terjadi.
"Moga-moga pemerintah benar-benar segera melakukan penghijauan kembali. Reboisasi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh," harapnya.
Di akhir pernyataannya, Gus Kautsar menyampaikan doa mendalam untuk para korban di Aceh, Padang, Sibolga, dan wilayah Sumatera lainnya. Ia berharap yang hilang segera ditemukan, yang wafat mendapat ampunan, dan bencana seperti ini menjadi yang terakhir.
"Indonesia ini bangsa yang super istimewa, penuh anugerah Allah. Kita wajib menjaganya sebagai bentuk syukur," tutupnya penuh harap.
Artikel Terkait
Kompolnas Pastikan Remaja Tewas di Makassar Akibat Tembakan Polisi
Pagar Proyek Sekolah Rakyat di Takalar Roboh, Diduga Akibat Pondasi Lemah
Pemerintah Buka Pendaftaran Tiket Kapal Gratis untuk Mudik Lebaran 2026
Istri Kasat Narkoba Toraja Utara Mohon Maaf dan Keringanan Hukuman di Sidang Etik