Kompolnas Pastikan Remaja Tewas di Makassar Akibat Tembakan Polisi

- Jumat, 06 Maret 2026 | 11:00 WIB
Kompolnas Pastikan Remaja Tewas di Makassar Akibat Tembakan Polisi

Makassar – Kematian Betrand Eka Prasetyo, remaja 18 tahun itu, kini dipastikan akibat tembakan. Anggota Kompolnas, Choirul Anam, secara tegas menyebut peluru yang merenggut nyawanya berasal dari senjata api seorang polisi berinisial Iptu N.

Peristiwa naas ini terjadi di tengah upaya aparat membubarkan tawuran. Uniknya, tawuran itu sendiri menggunakan senjata mainan berpeluru jelly. Lokasinya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Choirul Anam memberikan penjelasan di Makassar, Kamis (5/3).

"Ada luka akibat tembakan, peluru masuk dan peluru keluar itu ada. Selain itu, memar di wajah tidak ada," katanya.

Dia melanjutkan, pemeriksaan medis menunjukkan perbedaan yang jelas antara lebam dan memar pada jenazah. Anam menekankan, lebam bisa saja muncul pada tubuh seseorang beberapa saat setelah meninggal. Hal itu berbeda dengan memar akibat kekerasan.

"Itu kami pastikan, kami melihat utuh, jenazah sebelum diapa-apain. Kami juga mendapatkan informasi dari dokter bahwa tidak ada memar dan tidak ada luka, artinya hanya luka tembakan di tubuh korban saja," ujarnya.

Berdasarkan keterangan dokter forensik, Kompolnas pun menyimpulkan hal yang sama. Tidak ditemukan bekas kekerasan lain selain luka tembakan yang mematikan itu.

"Itu penting untuk memastikan kondisi jenazah. Sepanjang yang kami dapatkan, memang hanya luka tembakan," jelas Anam.

Di sisi lain, keluarga korban punya harapan yang jelas. Choirul menyampaikan, mereka menginginkan kasus ini ditangani secara terbuka dan transparan, tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Kemarin kami juga sudah bertemu dengan pihak keluarga. Mereka berharap proses penegakan hukum tetap berjalan dan itu sudah dijawab. Salah satunya dengan proses hukum yang berjalan, karena statusnya sudah tersangka," tuturnya.

Demo Tuntut Keadilan Berujung Ricuh

Gelombang duka dan kemarahan atas kematian Betrand tak hanya berhenti di ruang pemeriksaan. Aksi unjuk rasa meletus di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Mahasiswa turun ke jalan menuntut keadilan.

Namun begitu, suasana damai tak bertahan lama. Demonstrasi itu berubah ricuh setelah terjadi bentrokan dengan sejumlah pengemudi ojek online yang kebetulan melintas.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, mencoba merunut kejadian pada Kamis (5/3) itu.

"Tadi ada unjuk rasa sama mahasiswa dari UNM di depan, terus bakar ban, kemudian berjalan. Orang kan mau buka puasa, mau terawih, tapi karena terganggu masyarakat, lalu ada ojol juga yang lewat," kata Arya.

Menurut penjelasannya, insiden bermula dari perselisihan antara massa demo dengan seorang pengemudi ojol yang melintas. Situasi memanas ketika motor sang pengemudi dilaporkan dirusak.

Kerusakan itu, rupanya, memicu solidaritas sesama pengemudi ojek online di sekitar lokasi. Mereka pun berreaksi, dan bentrokan fisik pun tak terhindarkan.

"Nah kebetulan pas ojolnya lewat ini, ada perselisihan paham sampai motornya dirusak. Ini kemudian menyulut solidaritas dari teman-teman ojol yang ada di sini," ujar Arya Perdana.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar