Makassar, Kamis malam. Udara di Jalan Todopuli Raya terasa lebih berat dari biasanya. Suasana duka yang pekat menyelimuti kawasan itu, mempertemukan keluarga, kerabat, dan warga dalam sebuah aksi lilin. Mereka berkumpul untuk mengenang Bertrand Eka Prasetyo Radiman, yang nyawanya melayang dalam sebuah insiden penembakan yang masih menyisakan banyak tanda tanya.
Menurut sejumlah saksi, aksi itu dimulai sekitar pukul setengah sebelas malam. Tepat di lokasi kejadian. Lilin-lilin kecil menyala, diterangi pula oleh cahaya lampu jalan yang temaram. Bunga-bunga putih diletakkan pelan di aspal, sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus simbol doa untuk almarhum.
Suasana haru tak terbendung. Dalam keheningan, doa-doa dipanjatkan bersama. Beberapa kerabat terlihat tak kuasa menahan tangis, air mata mereka jatuh mengenang sosok Bertrand yang dikenal sebagai pribadi baik di lingkungannya.
Insiden nahas yang merenggut nyawa Bertrand ini terjadi beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Minggu pagi, 1 Maret lalu. Sekitar pukul tujuh, sebuah penembakan terjadi. Kabar yang beredar menyebutkan, peluru itu melesat dari senjata oknum aparat kepolisian diduga tanpa sengaja. Namun begitu, dugaan itu masih memerlukan penyelidikan yang jernih.
Kasus ini langsung menyulut sorotan. Ramai dibicarakan, bukan cuma di komunitas lokal, tapi juga membanjiri berbagai platform media sosial. Desakan agar kasus ini ditangani secara transparan dan tuntas bergema dari banyak kalangan.
“Kami hanya ingin keadilan,” kira-kira begitu harapan yang tersirat dari aksi malam itu. Bagi keluarga dan warga yang hadir, lilin yang mereka nyalakan bukan sekadar ritual. Itu adalah suara. Sebuah permohonan agar hukum berjalan tanpa tebang pilih, memberikan kepastian bagi mereka yang ditinggalkan.
Di sisi lain, ada harapan yang lebih besar: semoga tragedi seperti ini tidak terulang lagi. Tidak ada keluarga lain yang harus merasakan luka yang sama.
Akhirnya, setelah doa-doa dipanjatkan, satu per satu lilin dibiarkan padam dengan sendirinya. Para peserta membubarkan diri dengan langkah lambat, meninggalkan kesunyian dan setumpuk bunga di tengah jalan yang kembali sepi. Malam pun semakin larut.
Artikel Terkait
Polri-FBI Bongkar Sindikat Phishing Global, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Pelaku Tabrak Lari Tewaskan Pengacara di Cianjur Ditangkap di Bogor
Chelsea Pecat Liam Rosenior Usai Hanya Tiga Bulan Melatih
Guru Besar Unhan Tegaskan Modernisasi Pertahanan Indonesia Sudah Jadi Kebutuhan Mutlak