Prajurit Prancis UNIFIL Gugur di Lebanon Selatan Usai Serangan April Lalu

- Kamis, 23 April 2026 | 06:00 WIB
Prajurit Prancis UNIFIL Gugur di Lebanon Selatan Usai Serangan April Lalu

PARIS Kabar duka kembali datang dari Lebanon Selatan. Seorang tentara Prancis, anggota pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL), meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam sebuah insiden beberapa waktu lalu. Ini adalah korban jiwa kedua dari kontingen Prancis dalam serangan yang sama, yang terjadi pada pertengahan April.

Presiden Emmanuel Macron sendiri yang mengonfirmasi berita ini. Melalui sebuah postingan di media sosial X, dia menyampaikan prajuritnya itu telah berpulang setelah berjuang menjalani perawatan.

"Kopral Kepala Anicet Girardin dari Resimen Infanteri Cynotechnical ke-132 Suippes, yang dipulangkan kemarin dari Lebanon setelah menderita luka parah oleh pejuang Hizbullah, meninggal pagi ini,"

Macron menyampaikan duka mendalam kepada keluarga almarhum dan orang-orang terkasih. Rasa simpati juga ditujukan kepada keluarga personel UNIFIL Prancis lain yang masih terluka.

Ceritanya bermula pada 18 April. Saat itu, sebuah patroli pasukan Prancis yang sedang bertugas membersihkan ranjau di dekat Desa Gandouriya tiba-tiba diserang. Menurut laporan UNIFIL, sekelompok pria bersenjata lah yang melakukannya. Dalam insiden itu, Sersan Kepala Florian Montorio langsung tewas di tempat, sementara tiga lainnya, termasuk Girardin, mengalami luka parah.

Namun begitu, kelompok Hizbullah dengan tegas membantah terlibat. Mereka menyangkal bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap konvoi Prancis tersebut.

Insiden ini terjadi di tengah situasi yang sudah sangat memanas. Konflik antara Israel dan Lebanon kembali menyala awal Maret lalu, bersinggungan dengan ketegangan AS-Israel dan Iran. Hizbullah, sekutu utama Iran di kawasan, pun turun tangan dengan melancarkan serangan-serangan ke Israel.

Eskalasi terus berlanjut. Pada pertengahan Maret, Israel bahkan disebut melancarkan operasi darat dengan menyerang sejumlah kota di Lebanon selatan. Suasana perang sepertinya hampir tak terelakkan.

Ada secercah harapan muncul pekan lalu. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Lebanon dan Israel telah sepakat untuk gencatan senjata selama sepuluh hari. Tapi, apakah itu berjalan mulus? Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan hal yang berbeda: serangan dari pasukan Zionis dikatakan masih berlanjut, meski gencatan senjata seharusnya sudah berlaku. Damai di wilayah itu, sekali lagi, terasa sangat rapuh.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar