Ballroom BPDP di Jakarta ramai oleh suara riuh anak-anak pada Kamis lalu, 5 Maret 2026. Mereka bukan sedang berpesta, melainkan mengikuti acara edukasi bertajuk "Kakao dan Rahasia Cokelat". Sekitar 60 siswa SD dan SMP, kebanyakan dari Rumah Tahfidz An Nur di Depok dan sekitar Gambir, berkumpul untuk sebuah petualangan yang manis.
Tujuannya jelas: mengenalkan dunia perkebunan pada generasi muda. Tapi caranya? Jauh dari sekadar ceramah membosankan.
Pangihutan Siagian, Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, menekankan bahwa ini lebih dari sekadar acara seremonial. Baginya, ini adalah investasi.
"Kita tidak cuma mengelola dana, tapi juga membangun pengetahuan publik. Edukasi dini itu langkah preventif. Supaya tumbuh persepsi yang positif, faktual, dan yang paling penting, berkelanjutan," ujarnya dalam siaran pers Jumat (6/3).
Acara pun dimulai dengan sebuah kisah. Melalui dongeng yang dibawakan Kak Rona Mentari dari Rumah Dongeng Anak, anak-anak diajak menyusuri perjalanan panjang biji kakao. Dari pohon di kebun, melalui tangan-tangan petani, hingga akhirnya berubah menjadi cokelat lezat di meja mereka. Metode storytelling ini rupanya jitu. Mereka terlihat antusias, menyimak setiap tahap proses dengan mata berbinar.
Usai mendengar cerita, pemahaman mereka diuji lewat kuis interaktif. Pertanyaan seputar manfaat kakao sampai peran petani pun dilontarkan. Seru sekali. Di sisi lain, BPDP juga memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan media belajar baru: komik edukatif. Komik bilingual dengan gambar-gambar menarik itu dibuat khusus untuk tiga komoditas andalan: sawit, kelapa, dan tentu saja, kakao.
Harapannya, kegiatan semacam ini bisa menanamkan pemahaman yang baik tentang sektor perkebunan. Bukan cuma sebagai penghasil komoditas, tapi sebagai pilar ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dan menyokong negeri. Dengan cara yang fun dan mudah dicerna, BPDP berusaha membuka mata anak-anak pada rahasia di balik sebatang cokelat yang mereka gigit.
Pada akhirnya, yang tertanam bukan cuma pengetahuan. Tapi mungkin juga apresiasi. Untuk setiap biji kakao, dan untuk setiap petani di baliknya.
Artikel Terkait
Letjen Djon Afriandi: Dari Taruna Terbaik hingga Pangkopassus dengan Brevet Langka
Bonucci Usulkan Guardiola sebagai Solusi Radikal untuk Timnas Italia yang Terpuruk
Kasus Suap Impor Bea Cukai Jadi Momentum Perkuat Tata Kelola Sistem
DPR Tolak Wacana PPN Jalan Tol, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian