Mereka juga memohon agar warganet tidak lagi menyebarluaskan rekaman aksi mereka sebelumnya.
Namun begitu, niat baik mereka seakan tenggelam. Perhatian warganet justru tertuju pada ekspresi sang pria, yang dianggap tidak serius dan terlihat menahan senyum.
Komentar-komentar seperti "Gak serius, yang cowok malah nahan ketawa sumpah," dan "Yang cowok cengar-cengir, curiga aku," mendominasi kolom komentar video klarifikasi. Ini mencerminkan betapa skeptisnya publik terhadap keikhlasan permintaan maaf mereka.
Klarifikasi ini sendiri merupakan respons dari sebuah rekaman siaran langsung TikTok yang sebelumnya telah memicu kemarahan publik. Dalam video live itu, pasangan ini diduga melakukan eksploitasi tubuh, mulai dari cium pipi hingga tindakan vulgar seperti mengangkat baju dan membiarkan area sensitif dicium. Semua itu dilakukan demi mendapatkan gift virtual dari penonton.
Reaksi keras netizen terhadap degradasi moral demi popularitas dan keuntungan instan telah mendorong video tersebut menyebar dengan kecepatan luar biasa.
Upaya memadamkan api dengan klarifikasi justru seperti menyiram bensin. Alih-alih mereda, yang terjadi malah gelombang baru percakapan dan istilah pencarian yang semakin memperluas jejak digital insiden ini.
Pola di era digital semakin jelas: sebuah konten viral tidak lagi berdiri sendiri. Ia melahirkan ekosistem konten turunan dan kata kunci yang memudahkan penyebarannya, sekalipun sudah ada permintaan maaf dan ajakan untuk menghentikan penyebaran.
Artikel Terkait
Cuitan Dokter Tifa Soal Kondisi Hamba Allah yang Didesak Dibawa ke Luar Negeri
Blangkejeren-Kutacane Dibuka, Namun Jalan Masih Penuh Rintangan
Gus Ipul: Santunan Korban Jiwa Bencana Sumatera Mulai Disalurkan
Rocky Gerung Muncul di Rakernas PDIP, Dampingi Elite Partai di Ancol