✍🏻 @DokterTifa
Kenapa tidak ada satupun pernyataan dari Dokter Kepresidenan tentang sakitnya Hamba Allah ini ya?
Pasti nyeri dan gatal sampai tak kuasa menahan diri untuk terus menggaruk-garuk badan.
Yang kejam itu ya orang-orang dekatnya yang terus-terusan membiarkan dia muncul melayani para Termul yang berdatangan, padahal sudah pucat pasi dan badan tinggal tulang begitu.
Padahal seperti yang berkali-kali saya sampaikan: beliau ini harus segera dibawa ke Pusat Terapi dan Rehabilitasi Autoimun di Amerika, Jerman, atau China.
Jangan sampai terlambat.
[VIDEO]
Pertanyaan itu dilontarkan lewat akun Twitter @DokterTifa, dan langsung menyulut perhatian. Intinya sederhana, tapi terdengar mendesak: kenapa tim dokter kepresidenan diam saja?
Menurut cuitan itu, kondisinya sudah mengkhawatirkan. Rasa nyeri dan gatal yang disebutkan digambarkan begitu hebat, sampai-sampai sulit untuk tidak menggaruk. Yang bikin miris, justru orang-orang di sekitarnya dituding bersikap kejam. Mereka dianggap membiarkan sang "Hamba Allah" ini tetap tampil melayani para tamu, padahal penampilannya sudah jauh dari prima pucat dan kurus kering.
Nah, di sini dia punya solusi yang menurutnya mutlak. Dokter Tifa bersikeras, sudah berkali-kali menyuarakan, bahwa pasien ini harus segera dilarikan ke pusat terapi khusus autoimun di luar negeri. Amerika, Jerman, atau China disebut sebagai opsi. Pesannya singkat tapi tegas: jangan sampai penanganannya terlambat.
Tak lama setelahnya, akun lain bernama @matanira_ membagikan sebuah video pendek. Kontennya sepertinya terkait, memperkuat narasi yang sedang dibangun. Suasana yang tercipta dari kedua unggahan ini adalah satu hal: desas-desus dan keprihatinan yang menyebar cepat di linimasa.
Artikel Terkait
Polisi: Tersangka Pemerkosaan dan Pembunuhan Siswi SD di Makassar Kecanduan Film Porno dan Narkoba
Gempa M 5,1 Guncang Timor Tengah Selatan, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Justin Hubner Ternyata Berdarah Makassar, Foto Prewedding dengan Jennifer Coppen Pakai Busana Adat Bugis Curi Perhatian
Mendikdasmen Kunjungi Pulau Arar, Pastikan Pendidikan Merata hingga Wilayah Terpencil Papua