MNC Energy Klaim Operasional Tambangnya Kebal Aturan Daerah Berkat Jalan Khusus

- Jumat, 09 Januari 2026 | 15:00 WIB
MNC Energy Klaim Operasional Tambangnya Kebal Aturan Daerah Berkat Jalan Khusus

JAKARTA - PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) kembali menegaskan posisinya. Kali ini, perusahaan menyatakan bahwa seluruh operasional tambangnya sama sekali tidak bersinggungan dengan jalan negara. Jadi, jangan bayangkan truk-truk pengangkut batu bara mereka memadati jalan umum. Rupanya, dari lokasi tambang hingga ke pelabuhan, mereka menggunakan jalan khusus yang dibangun sendiri.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Direktur Utama MNC Energy Investments, Suryo Eko Hadianto. Menurutnya, dengan adanya jalan khusus tersebut, aktivitas perusahaan jadi tak tersentuh oleh regulasi penggunaan jalan umum. Kebijakan apapun yang diterapkan Pemerintah Daerah Sumatra Selatan, klaimnya, tidak akan berpengaruh.

"Secara garis besar, seluruh tambang IATA tidak ada yang bersinggungan atau melintasi jalan negara. Semuanya pakai fasilitas jalan khusus batu bara yang kami kembangkan sendiri. Dari tambang langsung ke pelabuhan," tegas Suryo dalam konferensi pers, Jumat (8/1/2026).

Ia lalu merinci kondisi di salah satu lini usahanya, PT Arthaco Prima Energy (APE). Tambang ini punya cadangan yang cukup besar, sekitar 222 juta metrik ton, dengan kualitas batu bara antara 3.100 hingga 3.300 gar. Yang menarik dari segi logistik adalah jarak angkutnya yang terbilang singkat.

"Cuma sekitar 10 kilometer. Ini sangat pendek," ujarnya. "Kalau kita lihat tambang-tambang lain, rata-rata jaraknya di atas 30 km. Kita diberkahi Tuhan, jarak kita cuma berkisar 10 km. Yang paling jauh pun cuma 16 km."

Nah, karena jalan khusus itu benar-benar terpisah dari jaringan jalan negara, klaim Suryo, kebijakan daerah tak akan mengganggu operasional APE, IBPE, maupun PMC. "Semuanya tidak terkendala oleh peraturan tersebut," katanya singkat.

Lalu bagaimana dengan infrastruktur pendukungnya? Saat ini, APE sudah mengoperasikan dua jetty manual yang bisa menangani sekitar 10.000 ton per hari. Tapi mereka tak berhenti di situ. Rencananya, perusahaan akan segera membangun batch loading conveyor berkapasitas jauh lebih besar, sekitar 40.000 ton per hari. Proyek ambisius ini masih dalam tahap finalisasi desain dan studi kelayakan.

Di sisi lain, MNC Energy juga sudah mengikat kerja sama dengan kontraktor nasional, Kalimantan Prima Persada (KPP), untuk jangka panjang lima tahun. Dalam periode kerjasama itu, target produksi tambang APE ditetapkan antara 3 sampai 7 juta ton per tahun.

Kapasitas pelabuhan pun terus dikebut. Dari saat ini yang sekitar 250.000 ton per bulan, akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 1,2 juta ton per bulan. Kalau kapasitas itu tercapai, potensi pengapalan tahunan APE bisa menyentuh angka 15 juta ton.

Selain urusan produksi dan logistik, perusahaan ini juga menyelipkan komitmen lingkungan. Mereka menargetkan semua wilayah IUP-nya meraih peringkat Proper Biru pada tahun 2026. Suryo mengakui bahwa aktivitas tambang pasti mengubah lingkungan awal.

"Tapi dengan komitmen dan praktik terbaik yang kami jalankan, kami yakin rona akhirnya justru lebih bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Kami berkomitmen menjaga lingkungan hidup, mulai dari air, debu, sampai limbah B3. Semua kami patuhi," pungkasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar