Proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) di Pantura Jawa ternyata butuh anggaran yang fantastis. Bayangkan saja, angkanya bisa mencapai 100 miliar dolar AS! Kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini, itu setara dengan Rp1.684 triliun. Jumlah yang sulit dibayangkan, bukan?
Lalu, dari mana dananya? Rupanya, pemerintah tak mau menanggung beban ini sendirian. Menurut rencana, pembiayaan akan melibatkan APBN sekaligus membuka peluang bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Jadi, skemanya nanti akan campuran.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf, mengonfirmasi hal ini. Ia ditemui di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan awal pekan ini.
"Secara keseluruhan, perkiraannya sekitar 80 sampai 100 miliar dolar AS. Kami sedang mendalami ini, tentu dengan mempertimbangkan keuntungan untuk Indonesia. Intinya, jangan sampai terlalu membebani pemerintah," ujar Didit.
Meski begitu, sampai detik ini belum ada satu pun investor yang benar-benar mengucurkan dananya. Realitanya masih sebatas wacana dan perencanaan. Namun begitu, BOPPJ sudah mulai memetakan wilayah prioritas. Pesisir Pantura akan jadi titik awal pembangunan tanggul raksasa ini.
"Kami tidak menggeneralisir semuanya harus pakai APBN atau harus pakai investor. Kami pelajari betul, area mana yang bisa dikerjakan oleh pihak dalam negeri sendiri, dan mana yang mungkin membutuhkan keterlibatan asing," jelasnya lagi.
Yang menarik, proyek ini dirancang bukan untuk jangka pendek. Didit menekankan, GSW dibangun dengan visi yang jauh ke depan. Bahkan, diharapkan bisa bertahan hingga 300 tahun ke depan! Makanya, soal pembiayaan dan eksekusi teknis harus ditangani dengan sangat hati-hati oleh semua pemangku kepentingan.
Wilayah cakupannya pun sangat luas. Rencananya, tanggul ini akan membentang sepanjang 535 kilometer, melintasi lima provinsi: Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Cakupannya meliputi lima kota dan 25 kabupaten. Sebuah pekerjaan raksasa dalam arti yang sesungguhnya.
Ambil contoh untuk wilayah Jakarta. Rancangannya, tanggul raksasa akan dibangun di sisi timur dan barat. Di antara kedua tanggul itu, akan ada jembatan. Tak cuma itu, di sisi tanggul juga direncanakan waduk retensi yang kelak berpotensi jadi sumber air baku bagi ibu kota. Jadi, fungsinya multi-manfaat.
Di sisi lain, proses perencanaannya melibatkan banyak pihak. BOPPJ yang berada di bawah supervisi Kemenko Infrastruktur ini menjalin sinergi dengan para ahli dari universitas dan lingkungan hidup. Tujuannya jelas: memahami akar masalah abrasi di pesisir secara komprehensif.
Saat ini, master plan proyek masih dalam pengerjaan. Berdasarkan kajian bersama para ahli, langkah selanjutnya adalah penyusunan naskah akademik. Naskah ini akan jadi landasan perencanaan dan eksekusi proyek yang nantinya diharapkan bisa berjalan simultan di sepanjang Pantura. Peran ahli internasional juga dilibatkan di sini.
Menurut Didit, kematangan kajian akademik ini sangat krusial. Ia berkorelasi langsung dengan kesuksesan proyek nanti. Urgensinya pun jelas: melindungi masyarakat dari kerugian akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, yang memicu banjir rob hingga penurunan muka tanah.
"Ini bukan cuma soal melindungi 17 sampai 20 juta jiwa penduduk," tegas Didit.
"Tapi juga seluruh aset nasional di Pantura Jawa, yang nilainya kurang lebih mencapai 368 miliar dolar AS."
Jadi, proyek ini lebih dari sekadar membangun tembok. Ia tentang mengamankan masa depan pulau terpadat di Indonesia dari ancaman yang kian nyata.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Salat di Jakarta untuk 7 Ramadhan 1447 H
Imsak Depok Pagi Ini Pukul 04.32 WIB, Azan Subuh 04.42 WIB
Agrinas Patuhi Permintaan DPR untuk Tunda Impor 105 Ribu Pick Up India
Imsak di Bekasi 04.31 WIB, Kemenag Rilis Jadwal Puasa 24 Februari