Kalau kamu jalan-jalan di permukiman padat Jakarta, coba perhatikan tiang listriknya. Bukan cuma buat nahan kabel, lho. Tiang-tiang itu kayak magnet yang narik segala macam "hiasan" dan kebiasaan warga. Dari stiker iklan sedot WC yang berlapis-lapis, sampai jadi alat komunikasi petugas ronda di tengah malam.
Di salah satu sudut RW 015, Cengkareng Timur, Jakarta Barat, pemandangan ini biasa banget. Hampir semua tiang listriknya penuh coretan kehidupan. Permukaannya dipenuhi tempelan stiker jasa segala macam: tukang bangunan, pinjaman uang, dan yang paling banyak, sedot WC. Sebagian stiker sudah lusuh, mengelupas, dan cuma ninggalin bekas lem yang item dan lengket. Nggak ada yang benar-benar bersih.
Nomor telepon dicetak besar-besar, saling tindih, kayak lagi berebut perhatian. Tapi, fungsi tiang-tiang ini ternyata lebih dalam dari sekadar papan iklan liar.
Saat kota terlelap, tepatnya sekitar jam satu pagi, suasana hening tiba-tiba pecah. Suara "duk... duk..." yang keras dan berirama mulai terdengar. Itu suara hansip yang memukul tiang listrik pakai alat keras, biasanya besi atau kayu, sebagai penanda bahwa patroli malam lagi berjalan. Ritual ini berulang sekitar jam dua pagi. Lalu, jelang Subuh, sekitar pukul empat, bunyi pukulan itu kembali menggema kali ini empat kali berturut-turut. Polanya tetap, dan konon tradisi ini sudah berjalan puluhan tahun.
"Pukulan itu tanda ke warga kalau hansip masih keliling," kata Ketua RT 011, Wagino (60).
Wagino, yang sudah tinggal di sini sejak 1993, bilang kebiasaan ini udah mendarah daging. Tiang listrik jadi alat komunikasi yang sederhana tapi efektif antara petugas dan warga. Menariknya, bunyi yang bagi orang luar mungkin terdengar mengganggu itu, justru bikin warga sekitar merasa aman.
Nur, salah seorang warga, mengaku justru merasa was-was kalau malam terlalu sunyi tanpa suara patroli itu.
"Kalau dengar bunyi itu, rasanya tenang. Berarti masih ada yang jaga," ujarnya.
Jadi, di tengah gegap gempita ibu kota yang makin modern, tiang listrik tua itu tetap setia pada peran gandanya. Siang hari jadi sasaran tempel iklan, malam hari jadi alat kentongan zaman now. Ia berdiri diam, menjadi saksi bisu dinamika keseharian warga Jakarta yang sederhana, unik, dan penuh cerita.
Artikel Terkait
Swiss Puji Peran Pakistan dalam Diplomasi AS-Iran, Tawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Penandatanganan Kesepakatan Damai
Trivigo Dorong Manufaktur Indonesia Percepat Transisi ke Energi Surya di Tengah Lonjakan Biaya Listrik dan Tekanan Pasar Global
Bocah 7 Tahun Tersetrum Usai Dibully di Taman Senen, Dua Remaja Diamankan Polisi
Laba Bersih PT Diamond Citra Propertindo Melonjak 216,7% di 2025, Siap Bagikan Dividen Rp2 Miliar