Di Banda Aceh, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan langkah-langkah konkret untuk mengebut pemulihan pascabencana di Sumatra. Ia tak sendirian. Rapat koordinasi yang digelar Sabtu (10/1) itu dihadiri sederet pejabat tinggi, mulai dari wakil ketua DPR, beberapa menteri, hingga kepala daerah. Fokusnya jelas: bagaimana caranya agar rehabilitasi dan rekonstruksi di 52 kabupaten/kota yang terdampak di Aceh, Sumut, dan Sumbar bisa lari lebih kencang.
“Makin detail datanya, kita akan makin tepat penanganannya. Kita mau bergerak,” tegas Tito, yang ditunjuk Presiden Prabowo sebagai ketua satgas khusus.
Sebelum menentukan strategi, timnya lebih dulu melakukan pemetaan mendalam di lapangan. Hasilnya, daerah-daerah itu kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kategori: sudah normal, setengah normal, dan belum normal. Kategorisasi ini melibatkan pemerintah daerah setempat, agar gambaran yang didapat benar-benar sesuai realitas di tengah masyarakat.
Dari situ, sejumlah prioritas pun mengemuka.
Pertama, soal lumpur. Tito mendesak percepatan pembersihan lumpur di permukiman dan aliran sungai. Menurutnya, butuh “keroyokan” besar-besaran. “Ini kalau bisa dikeroyok rame-rame, tambahan Polri, TNI, kemudian sekolah kedinasan, bergerak semua,” ujarnya. Dengan mobilisasi massal itu, ia yakin lokasi-lokasi terdampak bisa bersih sebelum Ramadan tiba. IPDN Kemendagri disebut sudah memulai dengan memberdayakan mahasiswanya.
Artikel Terkait
KPK Sita Emas dan Miliaran Rupiah dalam OTT Pejabat Pajak
KUHP Baru Diklaim Jadi Tameng Bagi Pengkritik Pemerintah
KPK Amankan Pejabat Pajak Jakarta Utara dalam OTT Suap Rp 4 Miliar
Pajak Rp75 Miliar Menyusut Drastis, Lima Tersangka Terjerat Kasus Suap di KPP Jakarta Utara