Dua Siswa SMA Semarang Raih Emas ISPO dengan Obat Antidiabetes dari Biji Gayam

- Kamis, 26 Februari 2026 | 18:25 WIB
Dua Siswa SMA Semarang Raih Emas ISPO dengan Obat Antidiabetes dari Biji Gayam

Dua siswa SMA 1 Semarang baru saja menorehkan prestasi membanggakan. Adfa Fauzana Maheswara, yang akrab disapa Zano, dan Ruha Khayyana Syakira, berhasil membawa pulang medali emas dari Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2026 di Jakarta. Kemenangan ini bukan sekadar piala, tapi juga tiket untuk berlaga di kompetisi penelitian ilmiah tingkat dunia di Rochester Institute of Technology, New York, Amerika Serikat, pada Juni mendatang.

Rahasia kesuksesan mereka? Sebuah penelitian tentang buah gayam. Ya, buah yang biasa kita temui dan diolah jadi keripik itu, ternyata punya potensi luar biasa. Keduanya berhasil memformulasikan ekstrak biji gayam menjadi obat herbal antidiabetes. Penelitian berjudul ‘Nano Formulasi Ekstrak Biji Gayam (Inocarpus fagiferus) untuk Mitigasi Hiperglikemia’ itu berhasil mengalahkan 40 finalis lainnya setelah melalui seleksi ketat dari ribuan peserta.

“Kami meneliti sejak tahun lalu, selama enam bulan, termasuk uji laboratorium, buah gayam mengandung senyawa-senyawa bioaktif yang efektif menurunkan kadar gula dalam darah yang signifikan,” ujar Zano saat ditemui di rumahnya di Banyumanik, Semarang, Rabu lalu.

Menurutnya, proses penelitian tidak mudah. Mereka dibimbing oleh guru sekolah, Martin Wibowo, dan seorang profesor. Ekstrak itu bahkan sudah diujicobakan pada tikus selama 14 hari berturut-turut, dan hasilnya cukup meyakinkan: kadar gula darah turun secara signifikan. Tak main-main, formula anti-diabetes berbentuk cairan nanoformulasi ini bahkan sudah dipatenkan di Kementerian Hukum RI pada pertengahan Januari lalu.

Di sisi lain, latar belakang masalah yang mereka angkat sangat relevan. Zano menyebut data yang mencengangkan: pengidap diabetes di Indonesia pada 2024 mencapai 10 juta orang, dan diprediksi melonjak jadi 16 juta pada 2045. Angka itu yang mendorong mereka untuk serius dengan penelitian ini.

Ruha, sang partner, punya harapan besar. “Kami pengin banget bisa memaparkan hasil penelitian ini di Amerika Serikat di Genius Olympiad, selain membawa nama Indonesia juga nama SMA dan Kota Semarang, new experiences juga buat kami,” tuturnya dengan semangat.

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Zano dan Ruha mencuri perhatian. Portofolio mereka sudah dihiasi sederet penghargaan. Sebut saja juara 1 di ajang ICSIT tingkat ASEAN pada Desember 2025, runner up di ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) Februari lalu, dan juga runner up di Indonesia International Applied Science Project (I2ASPO) tahun 2024 di Surabaya.

“Kami ingin mengembangkan lagi hasil penelitian ini untuk membantu orang-orang (menyembuhkan diabetes),” sambung Ruha menegaskan komitmen mereka.

Namun begitu, untuk bisa terbang ke Amerika, mereka masih butuh dukungan. Keduanya berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta pihak swasta. Dukungan itu dianggap penting untuk mendukung generasi muda berbakat seperti mereka agar bisa bersaing di kancah internasional.

Menariknya, di balik keseriusan mereka di lab, Zano dan Ruha juga punya kehidupan lain yang berwarna. Mereka adalah musisi. Ruha jago memainkan keyboard, sementara Zano adalah gitaris. Mereka tergabung dalam grup band yang sama, Gita Dusa. Di bidang ini pun prestasi tak kalah gemilang: juara 2 festival musik nasional dan Juara 1 Wali Kota Cup pada 2023.

Kini, sebagai siswa kelas XI SMAN 1 Semarang yang berasal dari SMPN 21 yang sama, perjalanan Zano dan Ruha adalah bukti bahwa passion di ilmu pengetahuan dan seni bisa berjalan beriringan. Mereka tak hanya pandai meneliti, tapi juga piawai mencipta melodi.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar