Pendaratan Perdana Airbus A380 di Soekarno-Hatta dan Investasi Tambang AS Rp 45 Triliun

- Senin, 10 Agustus 2026 | 05:06 WIB
Pendaratan Perdana Airbus A380 di Soekarno-Hatta dan Investasi Tambang AS Rp 45 Triliun

Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat tonggak sejarah baru dengan melayani pendaratan perdana pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 milik Emirates, pada Minggu (9/8) pukul 22.25 WIB. Kehadiran armada berbadan lebar ini menandakan kesiapan infrastruktur bandara dalam menampung pesawat ultra-besar berkapasitas hingga 600 penumpang dalam sekali penerbangan.

Langkah strategis Emirates ini merupakan ekspansi layanan setelah sukses mengoperasikan rute Dubai-Bali sejak 1 Juni 2023. Maskapai asal Dubai tersebut tercatat sebagai operator global terbesar untuk tipe Airbus A380-800 dengan mengoperasikan sedikitnya 123 unit armada aktif. Rute baru ke Jakarta ini diharapkan memperkuat konektivitas udara global Emirates yang mencakup 144 destinasi di enam benua dengan jadwal penerbangan harian ganda.

Di sisi lain, Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump mengumumkan komitmen investasi senilai USD 3 miliar untuk memperkuat sektor pertambangan mineral kritis domestik. Langkah ini diambil untuk mengamankan rantai pasok industri strategis dari dominasi China sekaligus memperkokoh kedaulatan sumber daya nasional menjelang rencana kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Washington pada September mendatang.

Alokasi dana stimulus ini didistribusikan ke berbagai proyek strategis, termasuk pinjaman senilai USD 1,4 miliar kepada Sila Nanotechnologies Inc. untuk memacu produksi anoda silikon dan sel baterai lithium-ion. Selain itu, Pentagon menyalurkan USD 400 juta kepada Sunrise Energy Metals Ltd. guna memperluas produksi skandium di Australia, serta dukungan modal untuk produsen magnet inovatif Niron Magnetics sebesar USD 150 juta.

Melalui skema pendanaan ini, AS menargetkan hilirisasi pertambangan yang mandiri, ditandai dengan pengoperasian kembali tambang rare earth pertama dalam 70 tahun terakhir dan pembangunan smelter aluminium baru pertama sejak 1980.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags