Bank Indonesia kembali mengawasi ketat pergerakan pasar keuangan di awal tahun 2026. Situasi global dan domestik yang dinamis mendorong bank sentral untuk memantau indikator stabilitas nilai tukar Rupiah dengan cermat.
Pada perdagangan Kamis, 8 Januari lalu, Rupiah ditutup di level Rp16.785 per dolar AS. Namun, suasana pagi Jumat terasa berbeda. Mata uang nasional dibuka sedikit melemah, menyentuh Rp16.815 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan naiknya yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun, yang merangkak ke 6,15 persen.
Di sisi lain, dinamika pasar global menunjukkan arah yang beragam. Indeks dolar AS (DXY) memang menguat ke 98,93. Anehnya, yield obligasi pemerintah AS (UST) tenor 10 tahun justru turun, berada di level 4,167 persen. Kondisi seperti ini kerap menciptakan ketidakpastian bagi arus modal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan minat investor asing? Data periode 5-8 Januari 2026 menunjukkan aktivitas yang cukup aktif. Investor nonresiden mencatatkan pembelian bersih (beli neto) senilai Rp1,44 triliun. Rinciannya, mereka membeli saham senilai Rp1,78 triliun dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp1,04 triliun.
Namun begitu, ada juga pelepasan di instrumen lain. Pasar SBN justru mengalami jual neto sebesar Rp1,38 triliun pada periode yang sama.
Secara kumulatif, sejak awal tahun hingga 8 Januari, sentimen investor asing masih terlihat positif. Mereka membukukan beli neto di pasar saham Rp3,85 triliun, di SBN Rp3,23 triliun, dan SRBI Rp0,26 triliun. Angka-angka ini memberi sinyal awal yang perlu terus diamati perkembangannya.
Satu indikator risiko yang patut dicermati adalah premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia. Per 8 Januari, premi untuk tenor 5 tahun berada di 69,57 basis poin, sedikit naik dari posisi seminggu sebelumnya yang 67,62 basis poin.
Menghadapi semua dinamika ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya. Bank sentral akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai otoritas terkait. Strategi kebijakan yang ada akan dioptimalkan, tak lain untuk menjaga stabilitas dan memastikan ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah gejolak global yang tak bisa diprediksi sepenuhnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)
Artikel Terkait
BMKG Proyeksikan Musim Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang
Wamen Haji Larang Petugas Flexing di Medsos, Fokus pada Pendampingan Jamaah
Wamen Haji Ingatkan Petugas Fokus pada Jemaah, Bukan Flexing di Medsos
Brebes Siap Jadi Lokasi Peternakan Sapi Perah Terbesar, Targetkan 180 Ribu Ton Susu per Tahun