IKI Februari 2026 Sentuh Level Tertinggi Kedua, Mayoritas Subsektor Masih Ekspansi

- Kamis, 26 Februari 2026 | 23:30 WIB
IKI Februari 2026 Sentuh Level Tertinggi Kedua, Mayoritas Subsektor Masih Ekspansi

Industri pengolahan nasional masih bergerak di jalur optimis di awal 2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) untuk Februari tercatat di angka 54,02. Angka ini memang turun tipis, cuma 0,10 poin, dibanding bulan Januari. Tapi kalau dibandingkan dengan posisi setahun lalu, justru ada kenaikan 0,87 poin. Bahkan, posisi ini disebut-sebut sebagai level tertinggi kedua sejak IKI pertama kali diluncurkan akhir 2022.

Survei menunjukkan, dari 23 subsektor yang dipantau, mayoritas tepatnya 19 subsektor masih berada dalam fase ekspansi. Hanya empat yang berkontraksi. Yang menarik, subsektor yang tumbuh ini menyumbang hampir 93 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman serta Industri Alat Angkutan Lainnya,”

Demikian diungkapkan Juru Bicara Febri Hendri Antoni Arief dalam rilis resminya di Jakarta, Kamis lalu.

Menurut Febri, kinerja kedua subsektor itu terdongkrak oleh permintaan yang meningkat dari sektor industri lain. Industri makanan, minuman, hingga tekstil dan alas kaki butuh dukungan dari sektor pencetakan. Sementara itu, penjualan sepeda motor pada Januari lalu melonjak jadi 577 ribu unit, naik lebih dari 3 persen dari tahun sebelumnya.

Di sisi lain, data BPS Februari ini juga mencatat tren menarik: konsumsi rumah tangga untuk pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya ternyata meningkat. Pertumbuhannya naik dari 2,73 persen di 2024 menjadi 4,52 persen setahun setelahnya.

Namun begitu, ada ironi di balik angka itu. IKI pasar domestik 2025 justru menunjukkan industri pakaian jadi dalam negeri malah menyusut. Artinya, peningkatan belanja masyarakat rupanya tidak sepenuhnya dinikmati oleh produk lokal.

“Dengan demikian, terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produk impor,” kata Febri.

Kemenperin pun menilai, momentum ini sayang kalau tidak dimanfaatkan. Peningkatan konsumsi dalam negeri seharusnya bisa jadi peluang emas untuk memperkuat manufaktur lokal dan daya saing produk Indonesia di pasar sendiri.

Lalu, subsektor mana saja yang masih terpuruk? Kontraksi terjadi di Industri Kayu dan Barang dari Kayu, Industri Barang Galian Non Logam, serta Industri Komputer dan Elektronik. Reparasi mesin dan peralatan juga ikut melambat.

Sri Bimo Pratomo dari Ditjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil menjelaskan, kontraksi di industri barang galian non logam terutama disebabkan oleh menurunnya pesanan dari pemerintah. Awal tahun anggaran dan bulan Ramadhan membuat banyak proyek infrastruktur belum bergerak.

“Kemungkinan besar akan dimulai setelah lebaran,” tuturnya.

Sementara itu, industri kayu dan barang dari kayu masih dirundung ketidakpastian global dan kekhawatiran akan dampak kesepakatan perdagangan internasional. Cerita serupa datang dari industri elektronik.

“Subsektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, mengalami penurunan pada pesanan luar negeri,”

kata Direktur IPAMP, Solehan. Ia menambahkan, kelangkaan komponen semikonduktor turut memperparah kondisi.

Meski ada perlambatan, secara keseluruhan orientasi pasar baik ekspor maupun domestik masih di zona ekspansi. IKI ekspor Februari ada di 54,61, nyaris sama dengan Januari. Sementara IKI domestik sedikit melandai ke 53,12.

Suasana usaha secara umum masih terasa positif. Survei menunjukkan 77,6 persen responden menganggap kegiatan usahanya stabil atau membaik. Optimisme pelaku usaha naik jadi 73,5 persen, sementara pesimisme merosot ke level 3,9 persen. Semua variabel inti pesanan, produksi, persediaan masih di atas garis ekspansi. Variabel produksi bahkan mencatat ekspansi tertinggi dalam setahun terakhir.

Jadi, meski ada sedikit koreksi, denyut industri manufaktur kita masih cukup kuat. Tantangannya kini adalah bagaimana mengalihkan permintaan domestik yang menggelembung itu agar lebih banyak mengisi pabrik-pabrik dalam negeri.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar