Di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Kamis lalu, suasana terasa cukup berbeda. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tampil dengan nada yang lugas, sekaligus reflektif. Intinya, dia meminta maaf. Maaf atas gesekan yang masih kerap terjadi antara personel kepolisian dan masyarakat saat bertugas di lapangan. Sigit tak menampik bahwa situasi itu bisa berujung pada korban dari kedua belah pihak. "Itu yang kami sesali," kira-kira begitu nada pernyataannya.
"Saya secara pribadi, dan selaku pimpinan institusi Polri, memohon maaf," ujar Sigit.
Dia melanjutkan, "Apabila dalam pelaksanaan tugas, anak-anak kami dalam menjaga stabilitas Kamtibmas di lapangan, mungkin sering terjadi gesekan yang kemudian bisa menimbulkan korban di kedua belah pihak."
Permintaan maaf itu bukan sekadar basa-basi. Sigit mengakui dengan jujur bahwa institusinya masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak yang harus dibenahi. Karena itulah, dia tak sungkan menyebut bahwa masih ada oknum yang bertindak di luar nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya. Tindakan mereka, menurut Sigit, jelas menciderai rasa keadilan di masyarakat.
"Kami menyadari Polri masih belum sempurna. Oleh karena itu, kami mohon maaf, kami titip diri," katanya lagi.
Lalu, apa langkah konkretnya? Sigit berjanji tak akan main-main. Setiap anggota yang terbukti melanggar akan ditindak tegas. Sanksinya akan dijatuhkan sesuai aturan, dengan prinsip transparan dan akuntabel. Itu janjinya.
Artikel Terkait
IKI Februari 2026 Sentuh Level Tertinggi Kedua, Mayoritas Subsektor Masih Ekspansi
Pemerintah Godok RUU Kewarganegaraan, Syarat Jadi dan Lepas WNI Diperketat
Dr. Tifa Luncurkan Buku Otak Politik Jokowi Hasil Riset Neuropolitika
Anak Gajah Liar Ditemukan Mati Diduga Akibat Jerat di Taman Nasional Tesso Nilo