Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya menghadapi kemungkinan perlawanan dari kelompok-kelompok yang selama ini diuntungkan oleh praktik ilegal, yang dinilai menjadi penghambat transformasi ekonomi nasional dan upaya memperlemah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pernyataan tegas itu disampaikan saat dirinya bertindak sebagai inspektur upacara pada peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026).
"Kita akan menghadapi rintangan, kita akan menghadapi tantangan, mungkin juga kita akan menghadapi perlawanan dari kelompok-kelompok yang suka dengan korupsi, suka dengan penyelundupan, suka dengan tindakan-tindakan ekonomi yang ilegal," ujar Presiden Prabowo dalam amanatnya.
Kepala Negara menegaskan bahwa potensi perlawanan tersebut dapat muncul dari pihak mana pun yang tidak memiliki rasa cinta terhadap tanah air. Menurutnya, bangsa yang besar harus memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang benar dan berpihak kepada kepentingan rakyat, meskipun keputusan itu sulit untuk dijalankan.
"Kita akan mungkin menghadapi perlawanan dari mereka yang tidak cinta tanah air bahkan berusaha terus untuk memperlemah NKRI. Tapi bangsa yang besar kita harus berani ambil keputusan yang benar walaupun sulit, kita harus berani membela rakyat kita," kata Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Presiden menekankan bahwa komitmen untuk membela rakyat merupakan bagian dari tugas sejarahnya sebagai Presiden Kedelapan Republik Indonesia sekaligus mandataris rakyat. Ia menolak untuk mewariskan kemudahan jangka pendek jika hal tersebut harus mengorbankan masa depan generasi penerus bangsa.
Di sisi lain, Prabowo mengidentifikasi salah satu titik lemah struktural dalam beberapa dasawarsa terakhir adalah model pertumbuhan ekonomi yang belum merata secara adil. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa nilai tambah dari kekayaan sumber daya alam yang melimpah justru lebih banyak dinikmati di luar negeri, sementara masyarakat Indonesia hanya menjadi penonton.
Untuk memutus rantai kebocoran kekayaan negara tersebut, Presiden menyebut pemerintahannya saat ini menempuh langkah transformasi haluan ekonomi yang berlandaskan pada Pancasila. Strategi konkret yang dijalankan meliputi pemberlakuan ekspor sumber daya alam satu pintu, investasi besar di bidang industrialisasi berbasis hilirisasi, serta penguatan pengelolaan devisa hasil ekspor.
Selain itu, pertahanan kedaulatan ekonomi nasional diperkuat melalui program ketahanan pangan, penguatan ekonomi perdesaan melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta program makan bergizi gratis. Presiden Prabowo meyakini bahwa dengan mengamalkan Pancasila secara konsekuen di bidang politik, hukum, budaya, dan terutama ekonomi, Indonesia akan terhindar dari ancaman perpecahan.
Artikel Terkait
Peringatan 1 Juni dan 1 Oktober Berbeda, Ini Bedanya Hari Lahir dan Hari Kesaktian Pancasila
Netanyahu Perintahkan Perluasan Operasi Darat di Lebanon, Eskalasi Konflik dengan Hizbullah Kian Memanas
Hasto Kristiyanto: Pancasila Jangan Direduksi Jadi Jargon Politik, Harus Jadi Instrumen Pembebasan Ekonomi Rakyat
Prabowo Kenang Kedekatan dengan Ryamizard Ryacudu sejak Taruna, Fadli Zon: Hubungan Batin Dua Tokoh Bangsa