Kalau kamu aktif di grup-grup saham, nama RLCO pasti sudah nggak asing lagi. Saham ini tiba-tiba jadi buah bibir, viral di kalangan investor ritel di media sosial. Gimana nggak? Saham yang baru resmi IPO tanggal 8 Desember 2025 itu, harganya melesat dan kena auto reject atas berulang kali. Fenomena yang bikin banyak orang penasaran.
Menurut data perdagangan, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) melepas saham perdananya dengan harga Rp168 per lembar. Tapi lihat sekarang, pada sesi perdagangan 9 Januari 2026, harganya sudah mentok di Rp4.010. Kenaikannya luar biasa, dan itu terjadi dalam waktu yang relatif singkat.
Hebatnya lagi, RLCO berhasil mencetak rekor ARA alias Auto Reject Atas sebanyak 17 kali berturut-turut. Rekor ini bahkan menggeser fenomena saham CDIA yang dulu juga sempat diburu habis-habisan oleh investor ritel. Perusahaan ini bergerak di sektor yang cukup unik, yaitu pengolahan sarang burung walet.
Sebagai emiten di sektor konsumen primer, bisnis inti RLCO memang seputar sarang walet. Mereka nggak cuma mengolah, tapi juga memproduksinya jadi makanan dan minuman siap konsumsi dengan merek "Real Food". Produk andalannya ya minuman sarang walet siap minum dan sarang walet kering.
Namun begitu, portofolio produk mereka ternyata lebih luas. Perusahaan ini juga merambah ke kaldu ayam cair, aneka makanan ringan, abon sapi, sampai minuman bernutrisi lainnya. Target pasarnya cukup beragam, menyasar konsumen dewasa hingga anak-anak. Saat ini, setidaknya ada enam varian produk yang dipasarkan dengan label Real Food.
Jalan bisnis RLCO sendiri menarik untuk ditelusuri. Perusahaan yang berdiri sejak 2016 ini awalnya cuma fokus ekspor sarang walet mentah. Dua tahun kemudian, barulah mereka ambil langkah besar dengan mendirikan Realfood Winta Asia dan terjun ke dunia pengolahan.
Ekspansi terus berlanjut. Di tahun 2024, mereka melebarkan sayap ke segmen protein berbasis unggas. Dari sinilah produk-produk seperti kaldu ayam cair dan abon sapi lahir, melengkapi lini bisnis utamanya.
Lalu, siapa sebenarnya yang mengendalikan perusahaan fenomenal ini?
Berdasarkan laporan bulanan ke BEI per 31 Desember 2025, kepemilikan saham RLCO terkonsentrasi pada dua pihak utama. Yang pertama adalah PT Realco Omega Investama, yang memegang kendali 77,7% saham atau sekitar 2,42 miliar lembar.
Pihak kedua adalah Edwin Pranata. Selain menjabat sebagai Direktur Utama, pria ini juga memiliki 2,32% saham perusahaan.
Sisanya, sekitar 20,08%, beredar di tangan publik atau investor non-warkat. Kalau dirunut lebih dalam, penerima manfaat akhir atau pemilik sejati perusahaan ini tetaplah Edwin Pranata.
Performa saham RLCO memang spektakuler. Sejak IPO hingga pertengahan Januari 2026, kenaikan harganya mencapai 1.674 persen. Saham ini sempat pula diperdagangkan dengan skema full call auction (FCA) selama seminggu penuh, menambah dinamika pergerakannya di pasar.
Fenomena RLCO ini menunjukkan betapa pasar saham kita masih penuh kejutan. Dari bisnis sarang walet, bisa menciptakan gelembung diskusi yang begitu besar.
Artikel Terkait
BGN Intensifkan Validasi Data Penerima Program Makan Bergizi Gratis
Harga Minyak Melonjak 4 Persen Setelah Iran Disebut Hentikan Negosiasi dengan AS dan Ancam Blokade Selat Hormuz
Analis: Risiko Penghapusan AMMN dan BRMS dari Indeks Emas Global GDX Terbatas Meski Ada Aturan Free Float Baru
Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Optimisme Negosiasi AS-Iran dan Chip AI Nvidia