Arab Saudi, Oman, dan Qatar disebut-sebut memimpin upaya diplomatik untuk mencegah AS melancarkan serangan baru. Posisi UEA? Itu masih samar. Sinyal yang muncul dari para pejabat dan pakar di sana terlihat beragam, tidak satu suara.
Sementara perdebatan dan diplomasi berlangsung, postur militer AS di lapangan justru makin mengeras.
Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln yang bertenaga nuklir telah tiba di kawasan Timur Tengah pada hari Minggu. Kehadirannya menandai rampungnya penumpukan militer besar-besaran AS. Kapal induk itu kini sudah berada dalam jarak serang ke Iran.
Pengerahan ini diperintahkan langsung oleh Trump. Ia menyebutnya sebagai tindakan pencegahan belaka. "Hanya untuk berjaga-jaga," katanya, jika jalur diplomasi gagal. Tapi ancamannya jelas: Iran bakal menghadapi pembalasan yang lebih keras dari sebelumnya jika terus menindas demonstran.
Armada Lincoln bukan main-main. Beberapa kapal perusak kelas Arleigh Burke di dalamnya membawa rudal jelajah Tomahawk yang bisa menghantam target jauh di daratan. Ditambah lagi, di geladak kapal induknya ada skuadron pesawat tempur siluman F-35C dan F/A-18 Super Hornet. Kemampuan ofensifnya sangat besar.
Belum cukup sampai di situ. AS juga telah menempatkan pesawat tempur F-15E di Yordania dan pengebom strategis B-52 di Qatar. Lapisan demi lapisan kekuatan serang mereka seolah sudah disiapkan.
USS Abraham Lincoln diketahui melintas ke arah barat melalui Selat Malaka pada 20 Januari, lalu bergerak mendekati Teluk Oman dan Laut Arab di akhir bulan. Posisinya sekarang sudah di bawah komando Centcom.
Semua sudah di tempat. Tinggal menunggu komando apa berikutnya yang akan diberikan.
Artikel Terkait
Menteri Iran Tuduh Israel Sensor Dampak Serangan Balasan
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung