Bayangkan, Kanada harus menyusun rencana perang melawan tetangga terdekatnya: Amerika Serikat. Itulah yang sedang terjadi, menurut pengakuan seorang pejabat federal Ottawa pada hari Selasa lalu. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari seratus tahun, negara itu merancang strategi pertahanan nasional dengan skenario invasi dari selatan.
Pemicunya? Sebuah postingan provokatif dari mantan Presiden AS Donald Trump di media sosial Truth. Dia mengunggah gambar peta Kanada dan Greenland yang ditutupi bendera Amerika. Langsung saja, situasinya berubah.
Nah, masalahnya jelas. Kanada tahu betul mereka tak mungkin menang dalam perang konvensional melawan raksasa militer seperti AS. Kekuatan mereka tidak sebanding. Jadi, rencana yang disusun jauh dari gambaran pertempuran frontal antar pasukan.
Alih-alih, strateginya mengadopsi pola perang asimetris. Intinya, mengandalkan sel-sel kecil yang terdiri dari personel militer dan bahkan warga sipil terlatih. Kelompok-kelompok gerilya inilah yang akan jadi ujung tombak.
Mereka akan melakukan penyergapan mendadak. Melancarkan serangan drone dari tempat persembunyian. Atau, melakukan sabotase terhadap jalur logistik dan komunikasi pasukan invasi. Mirip taktik yang dulu dipakai kelompok Taliban di Afghanistan saat melawan Rusia, lalu AS dan sekutunya.
Seorang pejabat yang namanya dirahasiakan karena tak punya kewenangan bicara mengakui dengan jujur. Dalam skenario terburuk, titik-titik pertahanan kunci Kanada bisa jatuh hanya dalam hitungan dua hari sampai seminggu. Mereka akan kewalahan.
Meski begitu, semua pihak sepakat bahwa kemungkinan invasi semacam itu sangatlah kecil, hampir mustahil. Tapi, dalam dunia yang tak pasti ini, bersiap untuk skenario terburuk bukanlah hal yang berlebihan. Itu kewajiban.
Mengandalkan Kekuatan Rakyat
Di sisi lain, langkah persiapan terus berjalan. Kepala Staf Pertahanan Kanada, Jenderal Jennie Carignan, punya ide besar. Dia berencana membentuk pasukan relawan cadangan yang massif, dengan target personel mencapai 400.000 orang. Angka yang cukup signifikan untuk memperkuat barisan.
Lalu, bagaimana dengan sekutu? Para pejabat di Ottawa cukup optimis. Mereka yakin negara-negara sekutu pemilik senjata nuklir, seperti Prancis dan Inggris, akan turun tangan membantu jika Kanada benar-benar diserang. Bagaimanapun, mereka semua masih satu pakta di NATO.
Pandangan ini diamini oleh Mayjen David Fraser, mantan pimpinan pasukan Kanada di Afghanistan.
"Kalau Anda menyerang Kanada, Anda bukan cuma berhadapan dengan kami. Anda akan berhadapan dengan seluruh dunia. Bahkan lebih daripada jika Anda mengganggu Greenland," ujarnya tegas.
Dia lalu menambahkan,
"Orang-orang peduli dengan apa yang terjadi di Kanada, tidak seperti di Venezuela, misalnya. Anda akan benar-benar melihat kapal perang Jerman dan pesawat tempur Inggris berdatangan di sini, untuk membela kedaulatan kami."
Jadi, meski rencana ini terdengar seperti plot film, pesannya jelas. Kanada tidak mau lengah. Mereka sedang bersiap, dengan caranya sendiri, untuk sebuah ancaman yang mungkin tak akan pernah datang. Tapi, lebih baik siap daripada menyesal, bukan?
Artikel Terkait
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China