Lelahnya Berjuang untuk Cinta
Ada lagi faktor lainnya. Sebagian dari kita mungkin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta itu harus diperjuangkan mati-matian. Mengalah, terus-menerus membuktikan diri, atau menenangkan pasangan dianggap sebagai wujud kasih sayang sejati.
Lalu, ketika akhirnya kita berada dalam hubungan yang setara tanpa tuntutan pengorbanan emosional berlebihan muncul rasa kosong. Tidak ada konflik untuk diperbaiki, tidak ada drama untuk diselesaikan. Situasi ini kerap disalahartikan sebagai kebosanan, padahal mungkin ini pertama kalinya kita merasakan kedamaian yang sesungguhnya.
Di sisi lain, jika dari awal cinta diasosiasikan dengan ketidakpastian, maka kedatangan konsistensi justru terasa mencurigakan. Kita jadi waspada. Padahal, dalam hubungan yang sehat, kamu tidak perlu terus-menerus berjaga, menebak-nebak isi hati pasangan, atau hidup dalam kecemasan akan ditinggalkan.
Ketentraman Bukan Akhir Segalanya
Intinya begini: dalam hubungan yang matang, intensitas tidak selalu berarti gejolak. Keintiman justru dibangun pelan-pelan lewat rasa aman dan kedekatan emosional yang dalam. Jadi, hubungan yang tentram bukanlah tanda gairah telah hilang. Itu justru pertanda hubunganmu tumbuh semakin dewasa. Dan itu hal yang baik.
Artikel Terkait
Mister Aladin Tawarkan Paket Tur 4 Hari Bangkok-Pattaya Mulai Rp 6,6 Juta
TXT Dikritik karena Diduga Gunakan AI Murahan di Trailer Comeback
Jobstreet Luncurkan Fitur Pencarian Kandidat Gratis untuk Akses 50 Juta Profil
Putri Akbar Tandjung, Karmia Krissanty, Wafat Setelah Berjuang Melawan Kanker