Bayangkan saja, darah menstruasi berpotensi membawa bakteri, termasuk Staphylococcus aureus. Bakteri ini bisa dengan mudah masuk lewat pori-pori atau luka kecil di wajah, lalu memicu infeksi yang sulit diatasi.
Belum lagi, tidak ada aturan baku dalam praktik ini. Berapa banyak darah yang dipakai? Berapa lama harus didiamkan? Seberapa sering boleh dilakukan? Semuanya serba tidak jelas. Ini yang bikin para ahli angkat bicara.
Mereka menekankan perbedaan mendasar antara menstrual masking yang dilakukan sembarangan di rumah, dengan prosedur PRP yang dilakukan di klinik.
Dalam perawatan PRP, darah pasien diambil dengan steril, lalu diproses dengan alat khusus untuk memisahkan plasma. Semua tahapan diawasi tenaga medis dan mengikuti protokol ketat. Sangat berbeda dengan mengoleskan darah haid langsung dari pembalut ke wajah.
Intinya, para ahli bersikap tegas: menstrual masking tetap berisiko tinggi sampai ada bukti ilmiah yang jelas. Mereka mengimbau masyarakat untuk berpikir ulang sebelum ikut-ikutan. Infeksi kulit bukan hal sepele bisa berakibat serius dan butuh penanganan medis yang tak mudah.
Jadi, sebelum tergoda mencoba hanya karena katanya “alami” atau “hemat”, pertimbangkan baik-baik risikonya. Kulitmu cuma satu. Lebih baik rawat dengan cara yang sudah teruji, daripada jadi kelinci percobaan tren yang belum jelas juntrungnya.
Artikel Terkait
Wamenparekraf: Konsep Bioskop Negara Sinewara Masih Digodok
Biji Labu, Sumber Zinc untuk Kesehatan Prostat dan Vitalitas Pria
Dua Rukun Pokok yang Menentukan Keabsahan Puasa Ramadhan
Shopee Big Ramadan Sale 2026 Hadirkan Promo Spesial, Dukung Gaya Busana Praktis ala Content Creator