Suasana di Iran hari ini terasa lebih tenang. Gelombang penangkapan besar-besaran yang dilakukan aparat keamanan tampaknya berhasil meredam kerusuhan yang sempat memanas beberapa hari lalu. Meski begitu, situasi ini belum bisa dibilang benar-benar berakhir. Kekhawatiran masih ada.
Menurut keterangan resmi, lebih dari dua ratus orang yang diduga sebagai otak kerusuhan kini sudah diamankan. Langkah ini menjadi penegasan bahwa pemerintah tak main-main.
Di sisi lain, dukungan terbuka dari Presiden AS dan Perdana Menteri Israel kepada para perusuh justru membuat Tehran semakin geram. Pemerintah Iran pun semakin agresif membidik siapa saja yang dicurigai berkolaborasi dengan agen asing, sebut saja Mossad atau CIA.
Yang menarik, sebagian besar dari mereka yang ditangkap ternyata berkewarganegaraan Afghanistan dan India. Motifnya diduga klasik: uang. Mereka disebut-sebut dibayar oleh jaringan Mossad dan afiliasinya untuk memicu kekacauan.
Nah, dalam perkembangan terpisah, Turki disebut-sebut turut membantu. Ankara dikabarkan membagikan informasi intelijen penting kepada Tehran mengenai upaya infiltrasi milisi bersenjata yang didukung AS. Kelompok ini berusaha menyusup ke Iran melalui perbatasan Irak.
Intel dari Turki itu menyebut, para milisi itu bergerak mendekati perbatasan dan berencana menciptakan kerusuhan yang lebih besar di tengah kerumunan demonstran. Begitu informasi itu diterima, Pasukan Garda Revolusi (IRGC) langsung bergerak. Mereka mengepung dan menetralisir ancaman tersebut.
Kerja sama intelijen seperti ini rupanya bukan hal baru. Iran dan Turki sudah cukup rutin berbagi informasi, terutama yang menyangkut stabilitas kawasan.
Sementara itu, di dalam negeri, gelombang dukungan untuk pemerintah justru menguat. Ratusan ribu orang membanjiri jalan-jalan di berbagai kota, mengibarkan bendera Iran dan menyuarakan solidaritas. Aksi mereka menjadi penanda bahwa narasi di lapangan tidaklah tunggal.
Kondisi ini membuat IRGC dan semua unsur keamanan tetap dalam siaga tinggi. Fokus mereka bukan cuma mengawasi demo, tapi juga mengawasi pergerakan musuh yang sewaktu-waktu bisa melancarkan serangan.
Respons dari AS, Israel, dan sejumlah negara Eropa pun datang. Mereka mengecam pemerintah Iran dan menyatakan dukungan bagi para demonstran. Bagi banyak pengamat, ini adalah potret standar ganda yang telanjang. Mereka diam melihat kebrutalan Israel di Gaza, bahkan juga kerap menangani demonstran di negara sendiri dengan keras, tapi begitu vokal menyerang Iran yang sedang memberantas agen bayaran asing.
Pemandangan seperti ini, bagi sebagian kalangan di Iran, mencerminkan mentalitas yang problematik di kalangan elit politik Barat.
Ada desas-desus bahwa Donald Trump, Netanyahu, dan sekutu-sekutunya sebenarnya ingin mencari dukungan dari kalangan tentara atau jenderal Iran yang mungkin bersedia berkhianat. Tapi sejauh ini, upaya itu tampaknya mentah. Angkatan bersenjata Iran terlihat masih solid mendukung pemimpin tertinggi mereka dan operasi pemulihan keamanan.
Dukungan juga mengalir dari apa yang disebut "Axis of Resistance" di Lebanon, Gaza, dan wilayah lain. Mereka mendorong pemerintah Iran untuk segera menstabilkan keadaan dan melanjutkan agenda perbaikan ekonomi dan sosial hal yang sebenarnya juga diinginkan oleh para demonstran yang tulus di awal.
Seperti upaya-upaya sebelumnya, langkah AS, Israel, dan Eropa untuk menggoyang Iran kemungkinan besar akan berakhir dengan frustrasi yang sama. Sejarah tampaknya berulang.
(Tengku Zulkifli Usman)
Artikel Terkait
Ibu Rumah Tangga di Muara Enim Tewas Dibunuh Mantan Pacar, Jasad Dibakar dan Dibuang ke Sungai
BMKG: Makassar Berawan Sepanjang Hari Sabtu Ini, Suhu Capai 34 Derajat Celsius
MotoGP Italia 2026: Kualifikasi dan Sprint Race di Mugello Hari Ini, Veda Ega Pratama Jadi Sorotan
Polisi Gerebek Tempat Hiburan Malam di Medan, Tangkap Karyawan dan Sita Delapan Butir Ekstasi