Dari Modal Rp300 Ribu hingga Pekerjakan 30 Warga, Pengusaha Keripik Singkong di Citayam Bertahan 11 Tahun

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 09:15 WIB
Dari Modal Rp300 Ribu hingga Pekerjakan 30 Warga, Pengusaha Keripik Singkong di Citayam Bertahan 11 Tahun

Sebelas tahun sudah Ahmad Munanjat mempertahankan usaha keripik singkongnya di kawasan Citayam, Kabupaten Bogor. Dari usaha rumahan yang dirintis dengan modal awal Rp300 ribu, pria yang akrab disapa Bang Anjat itu perlahan mengembangkan usahanya hingga mampu mempekerjakan 30 warga di lingkungan tempat tinggalnya.

Pria berusia 52 tahun itu memulai kisahnya pada 2015. Kala itu, ia masih bekerja di sektor periklanan di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Namun, kegelisahan akan masa pensiun mulai menghantuinya. Ia pun mulai berpikir untuk beralih menjadi wiraswasta. Dari sanalah ide memproduksi keripik singkong muncul.

"Awalnya mah saya belum resign dulu, dikit-dikit," kata Anjat saat ditemui di rumah dan tempat produksinya beberapa waktu lalu.

Dengan modal awal Rp300 ribu, Anjat membeli satu karung singkong. Ia bersama sang istri langsung mengolahnya sendiri, mulai dari mengupas, menggoreng, hingga mencari langganan. Tantangan terbesar saat itu, menurut dia, adalah menjalankan semuanya seorang diri.

"Jadi saya kerjain sendiri, berdua sama istri. Saya olahin, saya goreng sendiri, saya nyari langganan sendiri, jalan sendiri. Tantangannya itu," ujarnya.

Untuk memperkenalkan produknya, Anjat berkeliling menyebarkan pamflet ke sejumlah wilayah. Seiring waktu, banyak warga yang rutin membeli keripik buatannya. Bahkan, sempat ada pelanggan yang memesan untuk dibawa ke luar negeri. Lonjakan pesanan itu membuatnya kewalahan, apalagi saat itu ia belum mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya.

"Sampai orang kemari belum ada keripiknya. Sampai keteter waktu dulu," kenangnya.

Dua tahun setelah usaha berjalan, Anjat mulai melibatkan anggota keluarga untuk membantu mengelola produksi. Perlahan, ia pun merekrut warga setempat hingga kini berjumlah 30 orang. Ia mendorong ibu-ibu di lingkungannya untuk bekerja di tempat usahanya daripada menjadi pembantu rumah tangga.

"Kan rumah tangga mah dari pagi sampai sore. Kalau di sini kan enggak. Dari pagi sampai jam 1 siang kelar udah pulang, begitu," ujarnya.

Dalam proses pengembangan usahanya, Anjat mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI beberapa kali. Mulai dari nominal Rp10 juta, lalu terus meningkat hingga saat ini mencapai Rp150 juta. Ia mengaku pinjaman tersebut hampir lunas.

"Udah hampir lunas ini, tinggal dikit lagi," katanya.

Bantuan modal dari BRI, menurut Anjat, sangat membantu dalam meningkatkan kapasitas produksi. Selain itu, dana tersebut juga digunakan untuk mendukung transportasi penjualan. Ia pun pernah mendapatkan bantuan berupa alat-alat penggorengan dari BRI Pusat.

"Dari pusat datang ke sini, dia ngasih penggorengan," imbuhnya.

Bahan baku singkong biasanya ia peroleh dari sejumlah desa di Bogor. Namun, jika pasokan sulit didapat, Anjat akan memesan dari Lampung. Setelah dibeli, singkong dikupas, dicuci bersih, direbus, diiris tipis-tipis, lalu digoreng menjadi keripik. Setelah itu, keripik dibumbui dan dikemas sebelum dipasarkan.

Dari satu kuintal singkong, biasanya hanya dihasilkan 35 kilogram keripik. Dalam tiga hari, Anjat mampu mengolah delapan kuintal singkong menjadi keripik siap jual. Produknya dipasarkan ke berbagai wilayah, mulai dari Depok hingga Jakarta Timur.

Namun, perjalanan usahanya tak selalu mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan harga bahan baku, seperti minyak goreng dan plastik kemasan, terus membebani biaya produksi. Akibatnya, pendapatan hariannya kini berkurang menjadi di bawah Rp1 juta.

"Iya, nggak ada jutaannya sekarang mah. Kalau dulu mah alhamdulillah. Sekarang jadi kadang kita, kita putar-putar, dapat duit kita putar langsung," imbuh Anjat.

Uang hasil usaha itu diputar kembali untuk modal produksi sekaligus membayar para pegawai. Para pekerja dibagi ke dalam dua bagian: pengupasan pada pagi hari dan penggorengan pada malam hari. Kini, kebutuhan ekonomi keluarganya mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak sepenuhnya bergantung pada usaha keripik singkong tersebut.

"Iya, saya ketergantungan ini, ketergantungan masalah keripik. Masalah ekonomi saya untuk makannya, namanya keperluan sehari-hari, anak sekolah, saya kan dari ini. Ya, usaha apa lagi, nggak ada, usaha lain cuma ini aja. Dan juga kita kudu pintar-pintar untuk menyisihkan buat pegawai," ujarnya.

Di tengah tantangan yang dihadapi, Anjat berharap kembali mendapatkan bantuan dari BRI. Sementara itu, BRI menegaskan komitmennya untuk mendukung warga dalam mengembangkan usaha. Mantri BRI di Sasak Panjang, Mohammad Irfansyah, mengatakan pihaknya memberikan program pendampingan bagi para pelaku UMKM.

"Seperti yang dagang keripik kita kasih reward berupa alat-alat masak dan lainnya," kata Irfan.

Ia berharap usaha keripik singkong milik Anjat dapat terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.

"Harapan ke depan usaha nasabah makin maju dan berkembang, meningkatkan taraf hidup orang banyak di sekitar lingkungan," kata Irfan.

Kepala Unit BRI Citayam, Harianto, menambahkan bahwa ada beragam program pembiayaan yang disalurkan BRI untuk membantu masyarakat, mulai dari KUR, Kupedes, Kupedes Rakyat, hingga Briguna. Pihak BRI akan memproses pengajuan pembiayaan sesuai dengan profil masing-masing warga.

"Nanti disesuaikan dengan profil kebutuhan nasabah," ujar Harianto.

Ia menjelaskan, proses pengajuan kredit selama ini dilayani BRI dari berbagai kanal, termasuk database pipeline kantor pusat, pengajuan nasabah, serta UMKM kelurahan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar