Studi Ungkap Lonjakan KDRT di Inggris Saat Piala Dunia

- Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:36 WIB
Studi Ungkap Lonjakan KDRT di Inggris Saat Piala Dunia

Di tengah euforia Piala Dunia, perempuan di Inggris menghadapi ancaman yang tak kasat mata. Sebuah studi mengungkapkan bahwa angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) meningkat signifikan setiap kali turnamen sepak bola besar berlangsung, termasuk Piala Dunia.

Penelitian yang diterbitkan di Journal of Research in Crimes and Delinquency pada 2013 menganalisis data laporan KDRT harian dan bulanan dari kepolisian North West Inggris selama Piala Dunia 2002, 2006, dan 2010. Hasilnya, risiko KDRT terhadap perempuan melonjak 26 persen saat tim nasional Inggris menang atau seri, dan meningkat hingga 38 persen saat Inggris kalah.

Tren serupa juga terlihat pada turnamen Euro. Pada 2024, kepolisian Inggris mencatat 351 kasus KDRT yang terkait dengan pertandingan sepak bola. Menjelang Piala Dunia 2026, Crown Prosecution Service (CPS) Inggris pun mengeluarkan peringatan akan potensi peningkatan kasus serupa.

“Kita sering melihat kasus KDRT lebih banyak terjadi saat turnamen besar seperti Piala Dunia. Kami tegaskan bahwa pelaku akan disanksi dan kami tidak ragu mengadili mereka,” ujar Olivia Rose, pimpinan CPS nasional, kepada The Guardian pada Juni lalu.

Lantas, apa yang memicu lonjakan ini? Menurut Women’s Aid UK, sepak bola bukanlah penyebab langsung kekerasan. Namun, konsumsi alkohol dan emosi yang memuncak saat menonton pertandingan dapat memperburuk situasi dan memicu tindak kekerasan.

CEO Women’s Aid, Farah Nazeer, menegaskan bahwa KDRT bisa terjadi baik saat tim menang maupun kalah. “Sepak bola tidak menyebabkan kekerasan domestik. Kekerasan adalah pilihan yang diambil pelaku, berulang kali, tanpa peduli hasil pertandingan,” katanya seperti dikutip dari situs resmi Women’s Aid.

“Riset menunjukkan peningkatan KDRT selama turnamen, tetapi tidak benar jika kesuksesan tim menentukan apakah laki-laki akan melakukan KDRT. Ini adalah pola perilaku yang berulang, bukan akibat satu pertandingan,” imbuhnya.

Fenomena ini mendorong lahirnya kampanye “Stop It Coming Home” yang digagas Solace Women’s Aid. Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap KDRT selama turnamen besar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags