Prabowo Lakukan Diplomasi Ofensif ke Eropa, Konversi Nikel dan Posisi Geopolitik Jadi Investasi & Benteng Keamanan

- Jumat, 29 Mei 2026 | 04:45 WIB
Prabowo Lakukan Diplomasi Ofensif ke Eropa, Konversi Nikel dan Posisi Geopolitik Jadi Investasi & Benteng Keamanan

Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara Eropa pada akhir Mei 2026 bukanlah sekadar perjalanan diplomatik seremonial, melainkan sebuah strategi ofensif untuk mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik Indonesia menjadi investasi nyata serta benteng keamanan nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 28 Mei 2026.

Menurut Sugiat, paradigma politik luar negeri bebas-aktif yang dijalankan Presiden Prabowo saat ini mengadopsi pendekatan diplomasi ofensif. Strategi ini, ujarnya, bersifat proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional, bukan sekadar reaktif terhadap dinamika global. Diplomasi ofensif dijalankan dengan mengambil inisiatif untuk menetapkan agenda, membangun aliansi, dan memberikan tekanan strategis agar negosiasi berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” kata Sugiat.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu menambahkan, langkah Presiden Prabowo merupakan upaya untuk melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Sikap tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan pembelaan terhadap warga negara dilakukan secara terukur. Sugiat merinci tiga negara Eropa yang menjadi tujuan kunjungan pada akhir Mei 2026, yaitu Prancis, Austria, dan Hungaria, yang masing-masing memiliki posisi strategis bagi kepentingan Indonesia.

Prancis, menurut Sugiat, memiliki kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat. Ia menekankan bahwa negara tersebut tidak menjual sistem persenjataan canggih atau memberikan komitmen strategis hanya karena faktor finansial. Kedekatan politik yang dibangun secara bertahap melalui kunjungan berulang menjadi syarat mutlak dalam menjalin kerja sama dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Sementara itu, Austria disebut sebagai gerbang industri manufaktur presisi Eropa Tengah, dengan sektor utama yang mencakup mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, serta makanan dan minuman. Di sisi lain, Hungaria menjadi pusat pengembangan pabrik baterai kendaraan listrik atau gigafactory di Uni Eropa, tempat berkumpulnya raksasa industri seperti Samsung SDI dan CATL.

“Masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka,” ujar Sugiat.

Legislator dari daerah pemilihan Sumatra Utara III itu menegaskan bahwa Indonesia menguasai 65 persen nikel dunia. Sementara itu, Eropa, melalui gigafabrik di Hungaria dan teknologi di Austria, sangat membutuhkan nikel Indonesia. Sugiat menekankan bahwa Presiden Prabowo datang bukan sebagai peminta bantuan, melainkan sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif global.

Dunia saat ini, lanjut Sugiat, sedang bertransisi menuju kendaraan listrik. Namun, Indonesia memiliki waktu terbatas sebelum teknologi baterai bergeser ke bahan non-nikel. Oleh karena itu, Presiden Prabowo bergerak cepat secara maraton dari Paris, Wina, hingga Budapest dalam satu bulan untuk mengunci investasi hilirisasi sebelum jendela peluang tertutup. Menunda perjalanan, menurutnya, berarti kehilangan momentum emas.

Di luar aspek ekonomi, Sugiat juga menyoroti dimensi pertahanan. Ia menuturkan bahwa sebuah negara tidak bisa mendikte dunia jika militernya lemah. Kunjungan berulang ke Paris merupakan cara Presiden Prabowo membangun kepercayaan tingkat tinggi dengan Presiden Macron agar Indonesia diberi akses terhadap teknologi militer yang tidak sembarang negara bisa beli. Sugiat menegaskan bahwa perjalanan presiden harus dinilai dari tujuannya, bukan sekadar biaya perjalanan, yakni memperkuat transfer teknologi pertahanan, mengamankan kedaulatan di Laut Natuna Utara, dan meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai kekuatan regional.

“Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat,” ujar Sugiat.

Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo saat ini mempraktikkan keseimbangan geopolitik tingkat tinggi agar Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun. Sugiat menegaskan bahwa kepala negara tidak sedang melakukan diplomasi seremonial atau sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan bertarung di panggung dunia untuk menaikkan kelas Indonesia dari negara berkembang menjadi kekuatan global yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara militer.

“Indonesia sedang dipimpin oleh seorang patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri. Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis,” kata Sugiat.

Menurutnya, transfer teknologi dan investasi yang dikunci di Paris, Wina, dan Budapest adalah fondasi jangka panjang. Hasilnya, ia meyakini, baru akan terlihat nyata dalam hitungan tahun ke depan. “Pak Prabowo adalah seorang negarawan. Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara,” tegasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar