Gaji dua digit itu lebih dari sekadar angka. Ia sebuah simbol. Simbol bahwa kita 'sudah sampai'. Lewatnya, semua rasa lelah, malam-malam begadang, dan keraguan seakan terbayar lunas. Coba lihat di sekeliling, angka itu muncul di obrolan kafe, jadi caption media sosial, atau tersimpan rapi di notes ponsel sebagai target pribadi.
Tapi, pernahkah kita benar-benar bertanya: apa sih makna sesungguhnya di balik angka itu?
Nah, keinginan punya gaji dua digit di usia muda itu selalu dilihat dengan cara yang ekstrem. Di satu sisi, ia dipuji sebagai bentuk ambisi dan semangat juang. Namun begitu, tak sedikit yang mencurigainya sebagai bentuk ketidaksabaran dan obsesi berlebihan pada materi. Padahal, bagi banyak anak muda Gen Z, target ini muncul dari realitas yang sangat konkret: biaya hidup yang melambung, ekonomi yang serba tak pasti, dan keinginan untuk hidup lebih aman bukan cuma terlihat keren.
Jadi, soalnya bukan salah atau benarnya punya target. Pertanyaan yang lebih penting justru: dorongan itu datang dari mana? Dan apakah kesiapan kita sudah sejalan dengan target yang dikejar?
Di era digital sekarang, gaji dua digit terasa begitu dekat, sekaligus bikin sesak. Kita terus disuguhi cerita orang-orang yang 'sudah sampai' di usia yang terbilang sangat muda. Sayangnya, kita jarang diajak melihat perjalanan panjang di baliknya tahun-tahun belajar, jatuh bangun, atau fase bertahan yang tak terpublikasi. Yang tampak cuma hasil akhirnya, yang ringkasnya cuma satu angka mentah.
Kalau Cuma Ambisi, Gaji Tinggi Bisa Jadi Bumerang
Tanpa disadari, angka yang awalnya jadi tujuan, pelan-pelan berubah jadi alat pembanding. Dari pemacu semangat jadi sumber tekanan. Kita mulai merasa tertinggal, meski perjalanan kita sendiri baru saja dimulai.
Coba renungkan sejenak: apakah keinginan dua digit ini lahir dari kebutuhan hidup yang nyata, atau sekadar rasa takut ketinggalan dari orang lain?
Masalahnya sering muncul ketika target finansial kita lari lebih kencang daripada kapasitas yang kita miliki. Gaji bisa saja naik, tapi kalau skill belum matang, tekanan akan datang dari arah yang tak terduga. Tanggung jawab membesar, ekspektasi melonjak, sementara kepercayaan diri belum sepenuhnya terbangun. Dari luar, kita terlihat 'naik kelas'. Dari dalam, rasanya seperti terus dikejar-kejar.
Menurut riset yang dimuat di Academy of Management Perspectives, ada kecenderungan untuk menganggap berlebihan indikator kesuksesan eksternal seperti gaji dan jabatan. Sementara itu, faktor internal seperti kesiapan mental, energi, dan kapasitas belajar justru sering dianggap remeh. Akibatnya, banyak pencapaian yang tampak gemilang secara angka, tapi sebenarnya rapuh dan tidak berkelanjutan.
Artikel Terkait
Garansi Allah untuk Nol Keracunan Makanan Sekolah, BGN Dikritik
Dasco dan Tito Pimpin Rapat Koordinasi Pemulihan Aceh di Tengah Reruntuhan
Tawa Anak-anak Kembali Bergema di Huntara Aceh Tamiang
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa