Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 01:06 WIB
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?

Di titik inilah, mungkin kita perlu memaknai ulang target dua digit itu. Jangan lagi dilihat sebagai garis akhir, tapi lebih sebagai konsekuensi alami dari sebuah proses yang sehat. Pertanyaannya bergeser dari "kapan aku sampai dua digit?" menjadi "apa yang harus aku bangun supaya layak dan nyaman di angka itu?"

Ambisi itu wajar, tidak perlu dipadamkan. Tapi ia butuh diarahkan. Dua digit yang datang terlalu cepat, tanpa fondasi yang kokoh, justru sering menciptakan kecemasan baru takut tidak bisa mempertahankan, takut dianggap tidak cukup kompeten, takut suatu hari tersingkir. Stresnya tidak hilang, cuma berganti baju saja.

Bayangkan skenario yang lain. Gaji dua digit yang datang beriringan dengan pertumbuhan kapasitas diri. Peran yang lebih besar diikuti dengan kejelasan kontribusi. Penghasilan yang naik, sejalan dengan rasa percaya diri yang nyata dan terkendali. Dalam kondisi seperti ini, dua digit bukan cuma deretan angka di slip gaji. Ia menjadi rasa aman, karena kamu tahu betul apa yang kamu kerjakan dan alasan kamu pantas dibayar segitu.

Pertanyaan sederhananya: kalau besok target dua digit itu tercapai, apakah hidupmu akan terasa lebih tenang, atau justru makin cemas?

Karier yang sehat itu paham bahwa setiap fase punya fokusnya sendiri-sendiri. Ada fase belajar, di mana salah adalah bagian dari investasi. Ada fase eksplorasi, di mana arah masih cari-cari. Baru kemudian ada fase akselerasi, saat kapasitas dan peluang mulai bertemu. Memaksakan diri masuk fase akselerasi terlalu dini, seringnya cuma bikin perjalanan terasa berat dan singkat.

Bagi Gen Z, tantangannya bukan cuma mencapai angka dua digit yang pertama. Tapi lebih pada membangun diri yang mampu hidup dengan nyaman dan percaya diri di level tersebut. Artinya, paham skill apa yang sedang dikembangkan, nilai apa yang ingin dibawa ke meja kerja, dan batas energi seperti apa yang harus dijaga.

Jadi, sebelum menetapkan target dua digit itu, coba tanya dengan jujur pada diri sendiri: skill apa yang membuatku layak dibayar segitu? Masalah apa yang bisa kuselesaikan dengan konsisten? Dan yang paling penting, apakah aku siap mental menghadapi segala tuntutan yang akan menyertai?

Dua digit pertama itu bukan balapan siapa paling cepat sampai. Ini lebih tentang siapa yang paling siap ketika akhirnya tiba di sana. Soalnya, pencapaian finansial yang sehat bukanlah yang membuat kita terlihat sukses di mata orang lain, melainkan yang membuat hidup kita sendiri terasa lebih stabil dan punya makna.

Jadi, mengejar dua digit? Silakan. Bermimpi besar? Sah-sah saja. Tapi, memastikan diri kita tumbuh seiring dengan target itulah kuncinya. Baru dengan begitu, mimpi itu benar-benar menjadi milikmu.


Halaman:

Komentar