Kecelakaan bus Transjakarta yang terjadi pekan lalu, di mana dua bus saling bertabrakan, masih menyisakan keprihatinan mendalam. Hardiyanto Kenneth, anggota DPRD DKI dari PDI Perjuangan, menyuarakan hal itu dengan tegas. Bagi dia, insiden "adu banteng" itu bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan alarm keras peringatan yang harus didengar semua pihak yang berkecimpung di transportasi ibu kota.
"Kejadian ini harus jadi momentum evaluasi menyeluruh," ujar Kenneth, Kamis (26/2/2026).
"Transportasi publik adalah tulang punggung mobilitas masyarakat Jakarta. Aspek keselamatannya sama sekali tidak bisa ditawar."
Bang Kent, begitu ia biasa disapa, menekankan bahwa kepercayaan warga pada angkutan massal sangat bergantung pada konsistensi pengelola. Standar keamanan dan profesionalisme para pramudi, menurutnya, adalah kunci utamanya. Itulah sebabnya ia mendesak manajemen Transjakarta untuk segera membenahi sistem, terutama dalam hal merekrut pengemudi.
Selama ini, proses perekrutan banyak melibatkan pihak ketiga atau swasta. Skema itu sah-sah saja secara manajerial, kata Kent. Namun begitu, pengawasan terhadap kualitas seleksi dan standar kompetensi harus jauh lebih ketat.
"Jangan sampai rekrutmen cuma fokus memenuhi kebutuhan armada. Kompetensi, kesiapan mental, plus ketahanan fisik calon pengemudi harus jadi prioritas utama," tegasnya.
Ia lantas mengusulkan penyegaran sistem pelatihan. Koordinasi antara Transjakarta dan penyedia tenaga kerja pihak ketiga harus lebih intens. Pelatihan yang ada, ujarnya, jangan cuma jadi formalitas administratif belaka.
"Transjakarta kan punya Akademi Pelatihan. Saya harap peran dan fungsinya bisa dimaksimalkan," tutur Ketua IKAL Lemhannas PPRA Angkatan LXII itu.
"Saran saya, Transjakarta harus jadi leading sektor, menggelar pelatihan khusus yang wajib buat semua pramudi baik yang baru maupun yang senior. Formatnya seperti apa, saya serahkan ke manajemen PT Transjakarta. Program semacam ini penting, sebagai bentuk refreshment training untuk menyesuaikan standar keselamatan dengan dinamika di lapangan."
Untuk memperkaya materi, Kent menyarankan agar KNKT dilibatkan. Mereka bisa memberi pembekalan soal analisis kecelakaan dan pembelajaran dari berbagai insiden. Di sisi lain, kehadiran Korlantas Polri juga dinilai perlu, untuk menyampaikan materi kedisiplinan berlalu lintas dan menegaskan larangan berkendara dalam kondisi lelah.
Tak berhenti di situ. Kent juga menekankan pentingnya melibatkan tenaga medis, psikolog, bahkan tokoh agama dalam pelatihan. Faktor kelelahan, tekanan kerja, kesehatan fisik, dan stabilitas emosional, menurutnya, sangat memengaruhi kualitas keputusan seorang pengemudi di belakang kemudi.
"Dalam banyak kasus, human error jadi penyebab utama kecelakaan. Makanya, aspek kesehatan fisik, mental, dan psikologis pramudi harus jadi bagian integral dari sistem pembinaan," jelas Kepala BAGUNA DPD PDIP Jakarta itu.
Pelatihan itu sendiri, lanjutnya, harus dirancang komprehensif. Mulai dari simulasi situasi darurat, manajemen stres, etika pelayanan, hingga evaluasi berkala pascapelatihan. Hasilnya pun wajib dimonitor terus-menerus, jangan sampai berhenti jadi acara seremonial.
Kent menegaskan, keselamatan penumpang memang tanggung jawab bersama. Tapi sebagai operator, Transjakarta punya peran sentral. Mereka harus memastikan setiap pramudi benar-benar siap secara kompetensi, fisik, dan mental sebelum mengemudikan armada yang mengangkut ratusan hingga ribuan jiwa setiap hari.
"Evaluasi menyeluruh dan terobosan konkret bukan lagi pilihan. Ini kebutuhan mendesak, demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan," pungkasnya.
Sebelumnya, pada Senin 23 Februari 2026, dua unit bus Transjakarta terlibat tabrakan hebat di Koridor 13 Cipulir, Kebayoran Lama. Polisi menyebut salah satu pengemudi tertidur saat menyetir.
Kecelakaan melibatkan bus Transjakarta Bianglala (B 7136 SGA) yang dikemudikan Yayan, dan bus Mayasari Bhakti (B 7353 TGC) dengan pengemudi Arfan Sukoco.
Akibatnya, 24 penumpang mengalami luka-luka. Mereka dirawat di RS Sari Asih Ciledug dan Bakti Mulya Slipi. Dua orang di antaranya menderita patah tulang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan insiden ini disebabkan kelalaian sopir yang mengalami microsleep. Kondisi itu membuatnya melintas ke jalur lawan arah. Diduga, kurang tidur membuat sang sopir kelelahan saat bekerja.
Dalam insiden ini, Pemprov DKI tak hanya akan memberi sanksi ke pengemudi. Pramono menegaskan operator juga harus bertanggung jawab penuh atas pembinaan dan pengawasan terhadap para pramudinya.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Dua Pencopet WNA Belanda di Tanah Abang, HP Korban Dikembalikan
Pria di Cianjur Cabuli dan Bunuh Anak Tiri karena Cemburu Istrinya Gugat Cerai
Harga Minyak Dunia Turun di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Damai AS-Iran
Polisi Tangkap Terduga Pembunuh Warga Korea Selatan di Tambun Selatan