Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) terus mendorong pemerintah memberikan stimulus bagi kendaraan hybrid. Insentif dinilai mampu menekan harga mobil hibrida agar lebih terjangkau dan meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Vice Chairman Market Development Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengatakan bahwa pemberian stimulus menjadi salah satu cara untuk mendongkrak penjualan mobil hybrid di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan upaya mempercepat elektrifikasi kendaraan di tanah air.
“Katanya mau lebih banyak lagi (penjualan mobil hybrid), kalau lebih banyak lagi harus ada stimulus yang membuat itu bisa dibeli orang, makin terjangkau,” kata Jongkie saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, belum lama ini.
Namun, Jongkie mengaku belum mengetahui skema insentif yang akan diberikan. Ia menyerahkan sepenuhnya pembahasan bentuk stimulus tersebut kepada pemerintah. “(Skemanya) Belum tahu, makanya kami serahkan 100 persen pada pemerintah. Katanya mau lebih cepat lagi. Ya, kan tujuannya memang Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 begitu. Perpres 55 kan bunyinya apa? Akselerasi daripada elektrifikasi,” tegasnya.
Perpres Nomor 55 Tahun 2019 mengatur percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) untuk transportasi jalan. Aturan ini juga mencantumkan pemberian insentif fiskal sebagai salah satu upaya mempercepat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil hibrida di Indonesia menunjukkan kinerja positif pada semester pertama 2026. Penjualan mencapai 42.366 unit, naik 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah Belum Bahas Insentif Mobil Hybrid
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan sinyal nihilnya pemberian insentif bagi kendaraan hibrida untuk tahun ini. “Hybrid sudah bagus kan, year-to-date (penjualannya) naik 45 persen. Artinya kebijakan yang dilakukan pemerintah sudah sesuai dengan skema,” ucapnya saat menyambangi GIIAS 2026, Jumat (8/8).
Menurut Airlangga, kendaraan hybrid mulai diterima masyarakat karena menjadi pilihan bagi konsumen yang belum ingin langsung beralih ke mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV). Ia menilai stimulus pemerintah untuk kendaraan elektrifikasi sudah berjalan baik. Kebijakan tersebut juga ikut mendorong peningkatan penggunaan komponen lokal sehingga target pemerintah untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) disebut sudah tercapai.
“Karena sudah jalan, insentifnya sudah penuh. Insentif itu diberikan untuk produksi nasional, dan ini (model hibrida) produksinya sudah nasional,” lanjut dia.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku belum mendengar adanya rencana pemberian insentif untuk mobil hybrid. Menurutnya, pembahasan insentif yang ia ketahui saat ini masih berfokus pada kendaraan listrik (EV). “Saya belum mendengar rencana ini, yang kemarin rencananya EV saja. Baterai kendaraan berbahan dasar nikel dan lithium,” ucapnya kepada awak media di GIIAS 2026, Selasa (4/8).
Artikel Terkait
BYD Tembus Tiga Besar, Dominasi Toyota di Puncak Penjualan Mobil Nasional Juli 2026
Airlangga Isyaratkan Tak Ada Insentif Baru untuk Mobil Hybrid Tahun Ini
Menkeu Janjikan Insentif Tambahan Jika Toyota Pindahkan Pabrik dari Thailand ke Indonesia
Pemerintah Siapkan Stimulus Baru untuk 500 Ribu Kendaraan Listrik