Makam mertua seniman mendiang Djaduk Ferianto di area pemakaman umum Pakuncen, Kota Yogyakarta, dirusak. Diduga pelakunya adalah juru kunci makam tersebut.
Petra Ferianto, istri Djaduk, mengaku ayahnya dimakamkan di Kuncen sejak 1971. Peristiwa perusakan ini baru pertama kali terjadi. Ia mengetahui kejadian itu pagi tadi saat hendak nyekar. Petra kesulitan menemukan makam ayahnya karena nisannya telah dipotong.
"Terus ada orang saya tanya, juru kuncinya mana? 'Bentar lagi otw' katanya gitu. Kok otw?" ujar Petra melalui sambungan telepon, Selasa (11/8).
Saat itu, Petra juga bertanya kepada orang yang biasa membersihkan makam. Orang tersebut mengatakan juru kunci sedang tidak berada di makam. "Saya minta nomor HP-nya juga dia bilang nggak bisa, gitu kan. Terus saya ke kelurahan, ternyata itu bukan bagiannya kelurahan," katanya.
Petra kemudian melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Petugas pun mendatangi lokasi. Selang beberapa saat, Petra diminta kembali ke lokasi karena juru kunci sudah ditemukan.
Juru kunci tersebut mengaku sengaja memotong nisan agar Petra mencarinya. Petra menduga hal itu terkait masalah uang. Selama ini, ia kerap nyekar dan memberikan uang Rp 10 ribu kepada tukang bersih-bersih makam. Namun, beberapa waktu terakhir ia tidak menjumpai orang di makam tersebut sehingga bingung harus memberikan uang ke mana.
"Saya selalu meninggalkan bunga, sebagai cara memberi tahu bahwa ada yang miliki loh makam ini. Dengan ada bunga. Nah, ternyata itu tadi dia mancing, 'Iki pancen tak aku pegel, nek orang ini kan tentu ora nggoleki aku' (kalau tidak dipotong, tidak mencariku) gitu loh juru kuncinya itu gitu," katanya.
"Jadi singkat kata saya bilang, 'Ya wis kalau itu dianggap aku masih punya utang, utangku piro (berapa)?' Kayak gitu, selama saya datang ke situ tidak ada orang," ujarnya.
Petra meminta agar makam dikembalikan seperti semula. Ia bahkan menawarkan untuk berlangganan agar juru kunci tetap mendapat uang, baik saat Petra datang maupun tidak. "Padahal di situ ada 5 atau 6 polisi di situ. Terus, dia (juru kunci) menyetujui itu," katanya.
Bahkan, juru kunci sempat mengancam akan membongkar makam jika ada jenazah lain yang hendak dimakamkan, karena Petra tidak memberikan uang.
Dugaan Pemerasan
Petra akhirnya mengeluarkan uang Rp 500 ribu untuk juru kunci tersebut. "Yang saya anggap utang itu tak transfer ke dia. Saya ngasihnya Rp 500 ribu. Harusnya sudah terlalu banyak sebetulnya. Kalau ngasih upah kan paling ya Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan, kan," katanya.
Soal perbaikan makam, juru kunci bahkan sempat meminta uang Rp 50 ribu. "Kok aku jadi keluar biaya untuk (yang) kamu rusak," kata Petra menirukan. "Jadi kaya memeras gitu ya, pemerasan," tambahnya.
Selain itu, ada juga permintaan uang bulanan Rp 100 ribu. "Dia sempat bilang sesasi (sebulan) Rp 100 ribu, sehari berapa gitu," ujarnya.
Petra telah melapor ke kepolisian karena ada perusakan. Namun, karena pelaku mengakui perbuatannya, kasus disarankan diselesaikan secara kekeluargaan. "Cuma harapan saya kan tidak bukan dengan kasus saya toh, tidak berhenti di sini. Harus ada efek jera," katanya.
Ia khawatir kasus serupa menimpa makam-makam lainnya. "Karena juga yang lain juga kena tapi enggak tahu diurus apa ora (nggak) ya, saya enggak tahu. Bukan perusakan tapi makamnya dipakai keluarga lain," ujarnya.
Sementara itu, menurut informasi yang diterima Petra, makam sudah diperbaiki. "Katanya sudah diperbaiki. Tapi nggak tahu besok-besok," katanya.
Petra menilai, seharusnya jika ada pungutan harus ada regulasi dan dasar peraturan yang jelas, termasuk ke mana uang dibayarkan dan besaran yang pasti. "Dibikin sistem yang yang bagus. Ini kan enggak ada sama sekali. Yang ada terus ya itu tadi, pemerasan. Yang enggak dapet uang terus makamnya dirusak," tuturnya.