Peneliti Peringatkan Indonesia Terancam Jebakan Ketidaktampakan Strategis di Tengah Gejolak Global

- Senin, 06 April 2026 | 08:40 WIB
Peneliti Peringatkan Indonesia Terancam Jebakan Ketidaktampakan Strategis di Tengah Gejolak Global

Sebagai perbandingan, Iran tetap jadi bahan pembicaraan dunia meski sedang berperang. Sementara Indonesia, dengan populasi raksasa dan ekonomi yang stabil, nyaris tak disebut sebagai aktor penting.

Tekanan Ekonomi yang Bertumpuk

Laporan itu juga menyentuh soal tekanan ekonomi yang berlapis, atau yang disebut Keynesian Triple Squeeze. Tekanan ini terjadi secara bersamaan pada tiga pilar utama: lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas.

“Kondisi ini berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang benar-benar bisa menjadi penyangga,”

ungkap Emaridial.

Aset yang Belum Digarap Maksimal

Di sisi lain, sebenarnya Indonesia punya banyak modal. Keberhasilan penghimpunan pajak ekonomi digital, misalnya, menempatkan Indonesia di tiga besar dunia. Program Makan Bergizi Gratis juga merupakan investasi besar untuk sumber daya manusia.

Sayangnya, keunggulan-keunggulan itu belum sampai terdengar ke telinga dunia internasional. Komunikasinya kurang greget.

“Di era sekarang, narasi bukan pelengkap, tetapi penentu arah ekonomi. Jika sebuah negara tidak mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor penting,”

tegasnya.

Di Persimpangan Jalan

Laporan yang menggunakan pendekatan Global Trust Intelligence ini pada intinya menegaskan satu hal: Indonesia sedang di persimpangan. Pilihannya sederhana tapi berat: tetap menjadi penonton yang bisu dalam percakapan global, atau bangkit dan membentuk narasi agar diperhitungkan. Sebab dalam panggung dunia saat ini, kalau kamu tidak terlihat, kamu dianggap tidak ada.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar