Peneliti Peringatkan Indonesia Terancam Jebakan Ketidaktampakan Strategis di Tengah Gejolak Global

- Senin, 06 April 2026 | 08:40 WIB
Peneliti Peringatkan Indonesia Terancam Jebakan Ketidaktampakan Strategis di Tengah Gejolak Global

JAKARTA – Ancaman bagi Indonesia di tengah gejolak Perang Iran 2026 ternyata tak cuma soal ekonomi. Ya, lonjakan harga minyak dan tekanan pada APBN memang nyata. Tapi ada bahaya lain yang lebih dalam dan mungkin luput dari perhatian: Indonesia perlahan menghilang dari peta persepsi global.

Peneliti Emaridial Ulza dari Pusat Studi Politik dan Sosial menyoroti fenomena ini dalam laporan strategis terbarunya. Ia menyebutnya sebagai strategic invisibility trap jebakan ketidaktampakan strategis.

“Ini bukan soal Indonesia dipandang buruk, tetapi justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali,”

kata Emaridial, Senin (6/4/2026).

Laporan setebal lebih dari 35 halaman itu mengumpulkan data dari ratusan sumber internasional. Temuannya cukup mengkhawatirkan: di era banjir informasi ini, negara yang absen dari narasi global cenderung diabaikan. Baik dalam hal investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan penting.

Dampak yang Mengintai

Menurut Emaridial, dampaknya jauh melampaui sekadar citra. Efeknya bisa merembet ke mana-mana. Ambil contoh investasi asing. Dari sudut pandang international marketing dan neurosains, investor global tak hanya membaca angka. Mereka juga terpengaruh oleh narasi yang terus bergaung dan melekat di memori kolektif.

“Negara yang tidak aktif membangun narasi akan kehilangan perhatian, meskipun secara fundamental kuat,”

jelas Emaridial, yang juga Founding Director Global Trust Intelligence (GTI).

Lalu ada potensi naiknya biaya pinjaman dan pelarian modal. Logikanya sederhana: jika persepsi global melemah, risiko dianggap lebih tinggi. Ujung-ujungnya, biaya pendanaan pun membengkak.

Posisi tawar geopolitik juga bisa tergerus. Lihat saja bagaimana krisis energi global mendorong negara-negara ASEAN bernegosiasi dari posisi yang lebih lemah, terutama terhadap China di Laut China Selatan. Pergeseran ini berpotensi mengganggu stabilitas wilayah strategis Indonesia, seperti Natuna.

Terakhir, Indonesia bisa kehilangan momentum dalam kompetisi global yang kini sangat ditentukan oleh narasi. Negara yang tak terlihat akan ditinggal oleh pesaing yang lebih lihai membangun pengaruh, bahkan di tengah konflik sekalipun.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar