Kalau dilihat lebih detail, kontrak minyak kedelai di Dalian turun 0,28 persen. Minyak sawit di bursa yang sama juga melemah, bahkan lebih dalam, yaitu 0,81 persen. Tapi, ceritanya berbeda di Chicago Board of Trade, di mana harga minyak kedelai justru naik 0,78 persen. Pergerakan yang berlainan arah ini wajar saja mempengaruhi CPO, mengingat mereka semua bersaing ketat di pasar minyak nabati global.
Namun begitu, ada faktor pendukung lain. Harga minyak mentah dunia yang terus menguat imbas perang di Timur Tengah ternyata memberi angin segar. Kenaikan itu membuat minyak sawit terlihat lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Jadi, ada semacam penopang.
Faktor kurs juga berperan. Ringgit Malaysia melemah 0,2 persen terhadap dolar AS. Bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, komoditas ini jadi sedikit lebih terjangkau. Itu mungkin bisa mendongkrak minat.
Jadi, pasar hari ini seperti diimbangi oleh dua kekuatan: kekhawatiran geopolitik yang menahan kenaikan, dan dukungan dari harga minyak mentah serta kurs yang mencegah penurunan tajam. Hasilnya? Pergerakan harga yang stabil dan terbatas.
Artikel Terkait
Kemenhub Wajibkan Sopir Cadangan dan Aturan Istirahat Ketat untuk Antisipasi Kecelakaan Arus Balik
PT Merdeka Gold Ajukan IPO di Hong Kong di Tengah Peningkatan Produksi dan Kerugian Membengkak
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram
Harga Jual Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Anjlok Rp80.000