Pembelajaran Daring untuk Hemat Energi Dikritik, Legislator Ingatkan Risiko Learning Loss

- Selasa, 24 Maret 2026 | 18:00 WIB
Pembelajaran Daring untuk Hemat Energi Dikritik, Legislator Ingatkan Risiko Learning Loss

Isu pembelajaran daring kembali mencuat. Kali ini, bukan karena pandemi, melainkan sebagai bagian dari rencana penghematan energi pemerintah. Rencana ini, yang disebut-sebut sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto, sedang dikaji matang oleh jajaran kabinet.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyebut skemanya tak akan seragam. Untuk mata pelajaran tertentu yang bersifat praktik, kegiatan tatap muka di sekolah tetap akan dijalankan. Jadi, bukan full daring seperti dulu.

Namun begitu, rencana ini langsung memantik perdebatan. Di satu sisi, ada yang melihatnya sebagai opsi yang bisa diambil asal persiapannya benar-benar matang.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, termasuk yang berpendapat demikian. Menurutnya, kunci utamanya ada pada sinkronisasi kebijakan.

"Sejumlah langkah teknis yang komprehensif, menyinkronkan kebijakan antarkementerian dan pemerintah daerah harus dilakukan untuk memastikan tidak ada satu anak pun yang kehilangan hak belajarnya," tegas Lestari, Selasa lalu.

Ia mengingatkan, pengalaman pahit selama COVID-19 jangan sampai terulang. Kesiapan guru, beban orang tua, hingga infrastruktur digital yang belum merata harus jadi pelajaran berharga. Semua itu, kata Lestari, wajib dipastikan dulu sebelum kebijakan diterapkan.

Di sisi lain, penolakan justru datang dari internal parlemen. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap wacana penerapan daring mulai April 2026 nanti.

Bagi Esti, sistem itu terbukti belum efektif. Ia merujuk langsung pada masa-masa sulit saat wabah melanda.

“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” ujarnya, Senin (23/4/2026).

Dampaknya Bukan Main: Dari Pelajaran yang Hilang Sampai Karakter yang Tergerus

Esti lalu merinci sederet masalah yang ia khawatirkan akan terulang. Mulai dari kesulitan anak memahami materi, kendala sinyal dan gawai, sampai ancaman serius bernama learning loss penurunan kemampuan akademik yang bisa mematikan motivasi belajar.

Tak cuma itu. Aspek psikologis dan kesehatan fisik siswa juga jadi taruhannya. Yang paling dikhawatirkannya, pendidikan karakter jadi terabaikan.

“Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter,” katanya.

Mencari Jalan Lain

Esti menegaskan, efisiensi energi tidak boleh dibayar dengan mengorbankan masa depan anak. Ia mendesak pemerintah untuk lebih kreatif mencari alternatif kebijakan lain dalam menghadapi gejolak harga energi global.

“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak,” tandasnya.

Jelas, wacana ini masih panjang perdebatannya. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menghemat anggaran dan menjaga kualitas sebuah generasi. Titik temunya masih harus dicari.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar