Badut Penjual Balon di Mojokerto Bunuh Mertua, Akui Gelisah karena Khawatirkan Nasib Anak Balita

- Jumat, 08 Mei 2026 | 21:40 WIB
Badut Penjual Balon di Mojokerto Bunuh Mertua, Akui Gelisah karena Khawatirkan Nasib Anak Balita

Penyesalan mendalam dirasakan Satuan (43), seorang badut penjual balon di Mojokerto, setelah tega menghabisi nyawa ibu mertuanya dan melukai istrinya sendiri. Pelaku mengaku gelisah dan sulit tidur usai melakukan aksi kekerasan tersebut, bukan karena rasa bersalah semata, melainkan lebih karena terus memikirkan nasib anak bungsunya yang masih balita.

"Menyesal pasti menyesal. Yang bikin tidak bisa tidur karena kepikiran anak saya yang kecil terus," ujar Satuan saat berbincang dengan Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata, Jumat (8/5/2026).

Di balik peristiwa tragis itu, terungkap kisah rumah tangga yang tidak harmonis. Satuan mengaku kesulitan mengasuh anak balitanya yang kerap rewel jika keinginannya tidak dipenuhi. Di sisi lain, ia juga tidak lagi percaya kepada istrinya, Sri Wahyuni atau Yuni (35). Menurut pengakuannya, Yuni jarang bersedia mengurus anak dengan alasan kerja lembur. Sang istri, kata Satuan, baru mau mengasuh jika seluruh kebutuhannya terpenuhi, mulai dari uang belanja, biaya sekolah anak, hingga perawatan pribadi.

"Apalagi anak saya itu susah, tidak semua orang bisa momong. Kalau istri saya kasar sama anak," ungkapnya.

Satuan menikahi Yuni pada tahun 2020. Keduanya sama-sama berstatus duda dan janda. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak, namun salah satunya telah meninggal dunia. Kini, ia terus diterpa kecemasan karena memikirkan anaknya yang baru akan genap berusia empat tahun pada November mendatang. Selama ditahan di Rumah Tahanan Polres Mojokerto, ia mengaku tidak bisa tidur nyenyak.

Rasa tidak dihargai sebagai menantu turut membebani batinnya. Penghasilan pas-pasan sebagai badut sambil berjualan balon dan mainan anak membuatnya merasa dipandang sebelah mata. Namun, motif utama pembunuhan terhadap ibu mertuanya, Siti, menurut pengakuan Satuan, terjadi secara spontan. Ia panik saat kepergok tengah menganiaya istrinya.

"Spontan pak, iya (panik). Karena mertua datang makanya saya langsung ambil pisau di dapur," tuturnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar