Stephen Miran, seorang Gubernur Federal Reserve, punya pendapat yang jelas: pasar tenaga kerja AS butuh bantuan. Itulah mengapa dia bersikeras The Fed harus lebih agresif memangkas suku bunga. Namun, di tengah situasi geopolitik yang memanas, rencananya menghadapi tantangan serius.
Lonjakan harga minyak belakangan ini, yang dipicu oleh ketegangan antara AS-Israel dan Iran, membuat banyak analis waswas. Tapi bagi Miran, masih terlalu pagi untuk bilang bagaimana persisnya dampaknya terhadap ekonomi Amerika. "Kita harus menunggu semua data masuk sebelum benar-benar mengubah pandangan kita," katanya dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Senin lalu.
Dia mengakui, risiko inflasi memang meningkat. Tapi di sisi lain, ancaman pengangguran justru lebih mengkhawatirkannya. Guncangan harga energi seperti ini, menurutnya, bukan cuma masalah di sisi penawaran. Efeknya bisa merembet ke mana-mana, bahkan menekan permintaan konsumen.
"Saya pikir pasar tenaga kerja masih membutuhkan dukungan tambahan dari kebijakan moneter, dan itu sebabnya saya berbeda pendapat pada pertemuan terakhir."
Dan berbeda pendapat itu adalah hal yang understatement. Dalam pertemuan Federal Open Market Committee pekan lalu, Miran tercatat sebagai satu-satunya pejabat yang memilih untuk segera memotong suku bunga. Mayoritas koleganya memilih untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3.5% hingga 3.75%. Bahkan, banyak dari mereka yang hanya memproyeksikan satu kali pemotongan saja untuk sisa tahun ini.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Pernyataan Trump Soal Iran, Teheran Bantah Klaim Kontak
TOWR Catat Laba Bersih Rp3,68 Triliun di 2025, Tumbuh 10,3%
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik