Pebulu tangkis tunggal putri asal Belgia, Lianne Tan, menyimpan kisah hidup yang unik dan jarang terungkap. Di balik penampilannya di panggung bulu tangkis dunia, ia memiliki ikatan darah dan batin yang kuat dengan Indonesia, termasuk dalam urusan pendamping hidup. Perjalanan karier dan asmaranya menjadi sorotan, terutama setelah publik mengetahui bahwa ia menjalin hubungan dengan mantan pemain Pelatnas PBSI.
Lianne Tan bukan nama asing di kancah bulu tangkis Eropa. Ia tercatat sebagai salah satu atlet terbaik yang pernah dimiliki Belgia. Prestasinya melesat hingga ia mampu berlaga di empat edisi Olimpiade secara beruntun, yakni London 2012, Rio 2016, Tokyo 2020, dan Paris 2024. Namun, identitas aslinya baru benar-benar terkuak ke publik luas saat ia bertanding di Olimpiade Tokyo 2020.
Saat itu, momen unik terjadi ketika Lianne Tan berhadapan dengan wakil Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, di fase grup. Kamera menangkap percakapan antara Lianne dan pelatihnya saat jeda interval. Yang mengejutkan, ia menjawab instruksi sang pelatih dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Kejadian itu langsung memicu rasa penasaran publik.
Setelah ditelusuri, terungkap bahwa Lianne Tan memiliki darah Indonesia dari sang ayah, Henk Tan, seorang warga negara Indonesia yang telah menetap puluhan tahun di Belgia. Meskipun ibunya berkebangsaan Belgia dan ia lahir serta besar di sana, Lianne tetap menjaga akar budayanya dengan mempelajari bahasa tanah kelahiran sang ayah.
Di balik performa impresifnya di lapangan, ada sosok pelatih yang sangat berpengaruh dalam kariernya sekaligus menjadi pemilik hatinya. Sosok tersebut adalah Indra Bagus Ade Chandra, mantan pemain tunggal putra Pelatnas PBSI era pertengahan 2000-an. Indra Bagus memiliki rekam jejak yang cukup mentereng saat masih aktif bermain. Setelah memutuskan keluar dari Pelatnas pada 2009 untuk meniti karier profesional, ia pernah mengecap manisnya gelar juara di Swedish International 2010. Tak tanggung-tanggung, lawan yang ia kalahkan di partai final saat itu adalah Viktor Axelsen, yang kini menjadi legenda dan peraih emas Olimpiade.
Perjalanan karier membawa Indra berkelana ke Spanyol dan Italia, hingga akhirnya berlabuh di Belgia untuk menjadi pelatih. Di situlah benih-benih cinta tumbuh antara sang pelatih dan atletnya. Hubungan profesional yang awalnya terjalin di pusat pelatihan berubah menjadi komitmen hidup setelah keduanya memutuskan untuk menikah.
Artikel Terkait
Konflik Pecah di Ruang Ganti Real Madrid, Valverde Dilarikan ke RS Usai Baku Hantam dengan Tchouameni
Mantan Bek Bayern Niklas Süle Pensiun di Usia 30 Tahun Akibat Rentetan Cedera
PSM Makassar Buktikan Daya Tarik sebagai Rumah Pemain Asing: Yuran dan Victor Luiz Bertahan di Tengah Isu Sanksi FIFA
PSM Makassar Buktikan Diri Masih Jadi Rumah Nyaman bagi Pemain Asing di Tengah Ancaman Sanksi FIFA