Di pinggiran kota Teheran, ribuan liang lahan telah digali. Bukan untuk warga sipil, melainkan menurut klaim dipersiapkan khusus untuk tentara Amerika yang mungkin tewas. Laporan ini datang dari kantor berita Iran, Mehr, yang mengutip pernyataan organisasi pemakaman "Behesht Zahra". Langkah yang disebut-sebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Memang, organisasi itu punya tugas rutin mengelola pemakaman terbesar di ibu kota. Tapi pengumuman penyiapan kuburan massal untuk pasukan asing? Itu hal baru. Mereka bilang ini bagian dari persiapan proaktif, menanggapi ketegangan regional dan apa yang mereka sebut "petualangan" Amerika Serikat di kawasan itu.
Namun begitu, tidak ada penjelasan resmi yang rinci. Kapan persisnya ini akan dilaksanakan, atau skenario seperti apa yang dimaksud, tetap samar. Yang jelas, sumber-sumber menyebut jumlah kuburannya mencapai beberapa ribu. Sebuah pesan yang terang benderang tentang kesiapan menghadapi eskalasi.
Di sisi lain, laporan dari lapangan mengindikasikan aliran dukungan militer untuk Iran. Koresponden Aljazeera di Teheran, Nuruddin al-Daghir, melaporkan pengiriman senjata dari Rusia dan China telah tiba sejak peristiwa yang disebut "Perang 12 Hari" pada Juni lalu.
"Pengiriman tersebut diangkut dengan pesawat militer besar," kata al-Daghir, dikutip Republika.co.id, Jumat (30/1/2026).
Isinya berbagai perlengkapan militer, katanya, untuk memperkuat kemampuan pertahanan dan serangan Iran. Peran China disebut hampir pasti vital dalam memperkuat kemampuan rudal. Sementara Rusia dikabarkan memasok proyektil berbagai jenis.
Zaur Shug, koresponden Aljazeera dari Moskow, memperkuat narasi ini. Katanya, pengiriman militer Rusia nyaris tiap pekan datang ke Iran. Media-media internasional pun sudah beberapa bulan belakangan memberitakan kemitraan strategis kedua negara yang kian erat, terutama pasca-eskalasi terkini.
Eskalasi itu sendiri merujuk pada serangan Israel dengan dukungan AS pada 13 Juni 2025. Konflik selama dua belas hari itu menargetkan lokasi militer, nuklir, hingga fasilitas sipil Iran. Balasannya, Iran meluncurkan rudal dan drone ke markas militer serta intelijen Israel.
Manuver dan Pesan Politik
Dan kini, di tengah arus pengiriman senjata itu, Iran bersiap menggelar latihan militer bersama Rusia dan China. Namanya manuver "Sabuk Keamanan", sebuah latihan laut berkala. Tapi timing-nya kali ini terasa berbeda. Penuh makna. Baik secara politik maupun militer.
Jadi, dari kuburan massal yang sudah disiapkan di tepi kota, hingga latihan perang di laut, semuanya seperti bagian dari sebuah drama ketegangan yang masih berlanjut. Persiapan untuk skenario terburuk, atau sekadar pesan yang ingin didengar oleh dunia? Mungkin keduanya.
Artikel Terkait
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik