Perusahaan tambang emas Indonesia, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), ternyata sedang menyiapkan langkah besar. Mereka baru saja mengajukan permohonan untuk pencatatan saham perdana (IPO) di Bursa Hong Kong. Langkah dual listing ini jelas bertujuan menarik lebih banyak investor global dan membuka akses ke modal internasional. Apalagi, produksi di tambang andalan mereka, Pani Gold Mine di Gorontalo, terus menunjukkan tren peningkatan.
Pengajuan resmi sudah disampaikan ke otoritas bursa Hong Kong pada Jumat, 20 Maret 2026 lalu. Menurut laporan Reuters yang dirilis Senin kemarin, perusahaan yang sudah lama tercatat di BEI ini berharap listing di Hong Kong bisa mendongkrak profilnya di mata para investor institusi besar dunia.
Namun begitu, ada catatan yang perlu diperhatikan. Perusahaan melaporkan kerugian bersih yang membengkak menjadi USD 27,5 juta di tahun 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding kerugian tahun sebelumnya yang sebesar USD 12,7 juta. Untuk mengawal proses IPO yang ambisius ini, EMAS menunjuk dua raksasa keuangan: UBS dan Citic Securities sebagai penjamin emisi bersama.
Soal aset, Merdeka Gold sangat percaya diri. Mereka menegaskan bahwa Tambang Emas Pani adalah tambang emas primer terbesar di Indonesia, setidaknya kalau dilihat dari sumber daya dan cadangannya. Angkanya cukup fantastis: ada 7 juta ons emas di sumber daya mineral dan 5,2 juta ons di cadangan bijih yang sudah teridentifikasi.
Menariknya, sebelum kabar IPO ini beredar, EMAS bersama dua emiten tambang lainnya PT Archi Indonesia (ARCI) dan PT J Resources Asia Pasifik (PSAB) baru saja masuk dalam indeks global. Mereka dimasukkan dalam rebalancing Market Vectors Index Solutions (MVIS) Global Junior Gold Miners Index, yang jadi acuan bagi dana ETF VanEck (GDXJ). Perubahan komposisi indeks ini akan berlaku efektif mulai 20 Maret 2026.
Lantas, apa dampaknya? Analis dari CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) memperkirakan, masuknya EMAS ke indeks itu akan mendatangkan aliran dana segar yang cukup deras. Estimasi mereka, saham EMAS berpotensi menerima inflow terbesar, sekitar USD 86 juta atau setara Rp 1,46 triliun, dengan bobot sekitar 0,73 persen di indeks tersebut.
Artikel Terkait
Harga CPO Melemah Tipis di Tengah Pergerakan Minyak Nabati yang Beragam
Harga Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Turun Rp80.000 per Gram
Harga Jual Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Anjlok Rp80.000
Analis: Koreksi IHSG Belum Masuk Kategori Krisis Sistemik