Saham Teknologi dan Data Tenaga Kerja Dorong Wall Street ke Rekor Tertinggi, S&P 500 dan Nasdaq Tembus Level Baru

- Jumat, 08 Mei 2026 | 22:00 WIB
Saham Teknologi dan Data Tenaga Kerja Dorong Wall Street ke Rekor Tertinggi, S&P 500 dan Nasdaq Tembus Level Baru

Bursa saham Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan dengan penguatan signifikan pada Jumat (8/5/2026) waktu setempat, mendorong indeks S&P 500 dan Nasdaq menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Momentum ini dipicu oleh kenaikan harga saham teknologi raksasa seperti Nvidia dan Apple, serta dirilisnya data tenaga kerja AS yang melampaui ekspektasi pasar.

Saham Nvidia dan Apple masing-masing melesat lebih dari dua persen. Indeks semikonduktor pun ikut bangkit setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya, didorong oleh optimisme investor terhadap prospek permintaan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dari sisi fundamental ekonomi, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan jumlah tenaga kerja pada April 2026 bertambah lebih tinggi dari perkiraan analis. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap bertahan di angka 4,3 persen. Kondisi ini mengindikasikan pasar tenaga kerja masih solid dan memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS atau The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

“Ini mengonfirmasi bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat dan memberikan kepercayaan diri kepada konsumen untuk tetap menjaga pola belanja mereka,” ujar Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall.

Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 hingga 3,75 persen hingga akhir tahun. Pada perdagangan pagi di New York, indeks Dow Jones naik 106,64 poin atau 0,22 persen ke level 49.703,61. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,46 persen ke posisi 7.371,21, dan Nasdaq melonjak 0,76 persen menjadi 26.001,69.

Baik S&P 500 maupun Nasdaq tercatat berada dalam jalur penguatan selama enam pekan beruntun, menjadikannya reli mingguan terpanjang sejak Oktober 2024. Optimisme investor tetap terjaga meskipun ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat di kawasan Teluk.

Harga minyak sempat menyentuh angka 100 dolar AS per barel sebelum kembali melemah tipis. Pasar masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah serta potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Musim laporan keuangan emiten juga turut menopang penguatan Wall Street. Berdasarkan data LSEG, sekitar 83 persen dari 440 perusahaan anggota S&P 500 yang telah merilis laporan kuartal I-2026 mencatatkan laba di atas ekspektasi analis. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata jangka panjang yang sekitar 67 persen.

Namun, sejumlah saham justru mengalami tekanan. Saham Cloudflare anjlok 18,6 persen setelah perusahaan memangkas sekitar 20 persen tenaga kerja dan memproyeksikan pendapatan kuartal II di bawah estimasi pasar. Trade Desk turun 5,3 persen, sedangkan CoreWeave melemah 9 persen akibat kenaikan proyeksi belanja modal tahunan. Expedia juga turun 8,7 persen setelah menyebut konflik Timur Tengah membebani permintaan perjalanan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar