Fenomena Drag Crisis pada Bola Trionda: Ketika Fisika Jadi Mimpi Buruk Kiper di Piala Dunia 2026

- Kamis, 25 Juni 2026 | 20:36 WIB
Fenomena Drag Crisis pada Bola Trionda: Ketika Fisika Jadi Mimpi Buruk Kiper di Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menyisakan satu kontroversi yang tak terduga. Bukan soal kepemimpinan wasit atau keputusan VAR, melainkan bola resmi Adidas Trionda yang disebut-sebut menjadi "krisis" bagi para penjaga gawang. Sejumlah kiper top dunia kebobolan dari tembakan yang seharusnya masih bisa diantisipasi.

Fenomena Drag Crisis yang Membingungkan

Studi terbaru dari akademisi Seoul Women's University dan University of Tsukuba mengungkap fenomena yang oleh para peneliti disebut orientation-dependent drag crisis. Bola Trionda, ketika ditendang dengan kecepatan tertentu, mengalami perubahan drastis pada aliran udara di sekelilingnya.

Aliran laminar yang halus tiba-tiba berubah menjadi turbulen. Kondisi ini justru mengurangi hambatan udara sehingga bola melaju lebih cepat dari perkiraan kiper. Para peneliti menemukan bahwa efek ini dipicu oleh desain jahitan dan alur pada permukaan bola yang disebut upstream seam and groove arrangements.

Kiper Dunia Jadi Korban

Luca Zidane, kiper Aljazair sekaligus putra legenda Prancis Zinedine Zidane, menjadi contoh paling nyata. Dalam dua laga babak grup, ia kebobolan lima gol termasuk tembakan Lionel Messi dan Nizar al-Rashdan yang sebenarnya bisa ditepis.

"Bola datang ke arah kiper jauh lebih cepat dari yang terasa saat kaki menyentuhnya," ujar Joe Hart, mantan kiper timnas Inggris yang kini menjadi analis BBC. "Zidane lebih dari mampu menangkap bola dari Messi itu. Saat para kiper sudah beradaptasi dengan bola Piala Dunia ini, kita akan melihat tembakan-tembakan itu bisa diselamatkan."

Édouard Mendy dari Senegal dan Ahmed Basil dari Irak juga mengalami nasib serupa. Keduanya berhasil menjangkau arah bola tetapi gagal menahannya karena kecepatan yang tak terduga.

Desain Empat Panel dan Kontroversi Berulang

Adidas Trionda memperkenalkan konstruksi empat panel untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia sebuah lompatan besar dari Al Rihla edisi Qatar 2022 yang memiliki 20 panel. FIFA menyebut jahitan dalam yang sengaja dibuat dalam untuk memberikan stabilitas terbang yang optimal.

Namun, para pengamat langsung mengingatkan pada Jabulani, bola kontroversial Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Saat itu, Iker Casillas menyebutnya "mengerikan" dan Gianluigi Buffon menilainya "benar-benar tidak layak" karena lintasan bola yang tiba-tiba berubah di tengah terbang.

Bedanya, Jabulani memiliki permukaan halus. Trionda justru kebalikannya permukaan dengan jahitan dalam yang justru memicu drag crisis pada kecepatan lebih rendah.

Adidas mengklaim bola ini telah melalui lebih dari 300 tes laboratorium sebelum disetujui. Namun, data empiris dari turnamen sejauh ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara hasil laboratorium dan kondisi pertandingan sesungguhnya.

Faktor Altitude dan Variabel Lain

Penelitian dari Korea Selatan dan Jepang juga menemukan bahwa efek drag crisis bervariasi tergantung ketinggian lokasi pertandingan. Semakin tinggi lokasi stadion, semakin kecil kemungkinan terjadinya fenomena ini.

Faktor lain adalah posisi benturan bola. Jika bola ditendang tepat pada jahitannya, efek drag crisis lebih rendah dibandingkan jika ditendang pada panel. Variabel ini membuat kiper kesulitan memprediksi perilaku bola.

Tiga negara tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memiliki variasi ketinggian stadion yang signifikan. Stadion Azteca di Mexico City berada di ketinggian 2.200 meter, sementara stadion di Amerika Serikat bagian timur rata-rata di bawah 500 meter.

Para pelatih kiper di turnamen kini mulai mempelajari makalah setebal 18 halaman yang diterbitkan di jurnal Fluids tersebut. Makalah berjudul "Orientation-Dependent Drag Crisis and Flight Response of the Fifa World Cup Match Ball Trionda" menjadi bacaan wajib di kamp-kamp latihan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags