Mimpi buruk yang terjadi di pagi hari sering kali terasa lebih nyata, emosional, dan bahkan membingungkan, hingga membuat seseorang sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Fenomena ini berkaitan dengan fase tidur Rapid Eye Movement (REM), terutama ketika seseorang kembali tidur setelah sempat terbangun, misalnya setelah mematikan alarm.
Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi konsultan ginjal dan hipertensi, dr Decsa Medika Hertanto, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh sleep inertia dan perubahan fase tidur. Berikut fakta-fakta seputar mimpi buruk di pagi hari yang perlu diketahui.
Mimpi Pagi yang Terasa Hidup
Mimpi yang terjadi menjelang pagi cenderung lebih vivid atau hidup. Salah satu penyebabnya adalah fase REM yang berlangsung lebih lama pada akhir periode tidur. Pada fase ini, aktivitas otak yang berkaitan dengan emosi dan memori tetap tinggi, sehingga pengalaman dalam mimpi terasa kuat dan emosional.
Tidur Lagi Setelah Alarm
Kebiasaan mematikan alarm lalu tidur kembali dapat memicu mimpi yang lebih intens. Ketika seseorang kembali tidur setelah terbangun, otak dapat lebih cepat memasuki fase REM. "Menurut riset, aliran darah ke prefrontal butuh 5 sampai 30 menit buat balik normal. Nah, kalau di fase ini kalian tidur lagi, otak itu langsung lompat ke fase rapid eye movement atau REM, fase mimpi. Karena pagi hari, otak udah lapar untuk masuk ke fase mimpi," kata dr Decsa.
Selain itu, tidur yang terpotong dapat memicu fenomena REM rebound. Kondisi ini membuat otak memasuki fase REM lebih cepat dan intens. "Plus ada fenomena namanya REM rebound. Tidur kepotong bikin otak balas dendam masuk REM lebih cepat dan lebih intens. Hasilnya, mimpi jadi panjang, vivid, terasa real," tambahnya.
Emosi yang Menguat
Saat fase REM, bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan memori sangat aktif. Amigdala dan hipokampus, yang merupakan pusat emosi, bekerja aktif, sementara prefrontal cortex belum berfungsi optimal. "Apalagi di fase REM, amigdala dan hipokampus pusat emosi aktif banget. Sementara prefrontal kita hampir off. Makanya mimpinya emosional dan absurd," jelas dr Decsa.
Meski demikian, mimpi buruk sesekali adalah hal yang wajar dan tidak selalu menandakan masalah serius. Namun, jika mimpi buruk terjadi sangat sering hingga mengganggu kualitas tidur atau aktivitas siang hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis.
Sleep Inertia dan Cara Mengatasinya
Selain mimpi yang terasa nyata, sebagian orang juga mengalami sleep inertia, yaitu kondisi ketika otak belum sepenuhnya aktif setelah bangun. dr Decsa menggambarkannya seperti kantor dengan banyak divisi yang tidak masuk bersamaan. "Bayangin otak kalian itu kantor dengan banyak divisi. Pas alarm bunyi, tit-tit-tit, enggak semua divisi masuk bareng. Divisi gerak badan duluan, makanya bisa jalan ke kamar mandi. Tapi divisi mikir logis, alias cortex prefrontal, itu kayak bosnya yang masih ngopi di kafe. Telat masuk sampai 30 menit," katanya.
Untuk mengurangi rasa tidak nyaman setelah bangun, dr Decsa menyarankan agar tidak langsung kembali tidur jika waktu istirahat malam sudah cukup. "Nah jadi, kalau udah bangun pagi, mending kena sinar matahari langsung, minum air putih, gerak ringan. Daripada tidur lagi yang malah bikin pusing dan dihantui mimpi-mimpi yang aneh," ujarnya.
Dengan memahami mekanisme tidur, mimpi buruk atau mimpi yang terasa sangat nyata di pagi hari tidak perlu selalu dikaitkan dengan hal mistis. Fenomena tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai bagian dari proses otak beralih dari tidur menuju terjaga.
Artikel Terkait
Fenomena Drag Crisis pada Bola Trionda: Ketika Fisika Jadi Mimpi Buruk Kiper di Piala Dunia 2026