Di lereng sejuk Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sebuah tradisi warisan leluhur terus dirawat dengan penuh khidmat. Ribuan warga Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, rutin menggelar Nyadran Kyai Kramat setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Mereka berkumpul di areal pemakaman desa, membawa tenong berisi aneka makanan dan nasi tumpeng sebagai bagian dari ritual tahunan ini.
Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani kopi. Mereka berjalan beriringan menuju lokasi tradisi dengan pakaian rapi, menjunjung tenong di atas kepala atau menggenggamnya di tangan. Pemandangan itu menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan yang telah mengakar turun-temurun.
Seluruh hidangan yang dibawa tidak langsung disantap. Sebelum itu, doa dipanjatkan bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual doa menjadi inti dari Nyadran Kyai Kramat, mengingatkan bahwa tradisi ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga refleksi spiritual.
Artikel Terkait
Luka Kepala Korban Penyekapan di Bandung Terinfeksi Parah hingga Muncul Belatung, Pelaku Cemburu Jadi Motif
Rusia Klaim Hancurkan 660 Drone Ukraina dalam Serangan ke 12 Wilayah, Moskow Jadi Sasaran
Bank Mandiri Cetak Laba Rp23,3 Triliun hingga Mei 2026, Tumbuh 18,6 Persen
Olivia Rodrigo Gelar Festival Musik Amal, Seluruh Keuntungan Disumbangkan untuk Hak-Hak Perempuan